Monday, 2 June 2014

ETIKA KHOIRIYAH



Frekuensi Nyeri Persalinan pada Primigravida

Frekuensi nyeri merupakan jumlah nyeri yang ditimbul dalam periode atau rentan waktu tertentu. Dalam hal ini, nyeri yang ditimbulkan berasal dari kontraksi, sehingga perhitungan frekuensi nyeri didasarkan pada frekuensi kontraksi atau his yang timbul dalam tiap 10 menit. Semakin sering terjadi kontraksi, semakin sering pula ibu merasakan nyeri. 
            Akivitas rahim dimulai saat kehamilan. Pada saat Dalam Prawirohardjo (2008) dijelaskan His sesudah kehamilan 30 minggu terasa lebih kuat dan sering. Sesudah 36 minggu aktivitas uterus lebih meningkat lagi sampai persalinan mulai. Sumarah (2009) mengatakan pada awal persalinan kontraksi uterus terjadi selama 15-20 detik. Pada saat memasuki fase aktif, kontraksi terjadi selama 45-90 detik rata-rata 60 detik.          
            Dalam Veralls (2003) dijelaskan menjelang akhir kehamilan, glandula adrenalis fetus mensekresi hormone kortisol dan androgen dengan kadar yang meningkat dan hormon ini merangsang plasenta untuk meningkatkan sekresi esterogen dan relaksin yang dihasilkannya. Produksi progesterone tidak berubah, tetapi perubahan keseimbangan esterogen atau progesteron dan relaksin akan mengurangi efek relaksasi otot-otot uterus pada gilirannya hal ini akan menyebabkan pelepasan prostaglandin yang meningkatkan kemampuan otot uterus  untuk berkontraksi. Pelepasan prostaglandin disertai pelepasan oksitosin dari galndula pituitaria posterior. Dilatasi SBR pada akhir kehamilan juga dipercaya merangsang pelepasan oksitosin. Fungsi oksitosin, tentu saja untuk merangsang kontraksi uterus.
         Hal ini sesuai dengan Sumarah (2009) yang mengatakan pemeriksaan kontraksi uterus meliputi frekuensi, durasi/lama, intensitas / kuat lemahnya. Frekuensi dihitung dari awal timbulnya kontraksi sampai muncul kontraksi berikutnya. Pada saat memeriksa durasi / lama kontraksi, perlu diperhatikan bahwa cara pemeriksaan kontraksi uterus dilakukan dengan palpasi uterus, karena bila berpedoman pada rasa sakit yang ibu bersalin rasakan kurang akurat. Pada saat awal kontraksi biasanya ibu bersalin belum merasakan sakit, begitu juga saat kontraksi sudah berakhir, ibu bersalin masih merasakan sakit. Begitu juga dalam menentukan intensitas kontraksi uterus / kekuatan  kontraksi uterus, hasil pemeriksaan yang disimpulkan tidak dapat diambil dari seberapa reaksi nyeri ibu bersalin pada saat kontraksi.
Frekuensi nyeri mempengaruhi ibu bersalin dalam merespon nyeri. Semakin sering kontraksi timbul, semakin sering ibu merasakan ibu nyeri, meskipun ambang nyeri tiap individu berbeda. Pada saat ibu bersalin belum siap menghadapi persalinan, kurang matang psikologis, tidak mengerti proses persalinan yang ia hadapi akan bereaksi serius dengan berteriak keras saat kontraksi walaupun kontraksinya lemah. Sebaliknya ibu bersalin yang sudah siap menghadapi persalinan, matang psikologis, mengerti tentang proses persalinan, mempunyai ketabahan, kesabaran yang kuat pernah melahirkan, didampingi keluarga dan didukung oleh penolong persalinan yang professional, dapat menggunakan teknik pernafasan untuk relaksasi, maka selama kontraksi yng kuat tidak akan berteriak. 

No comments:

Post a Comment