Frekuensi Nyeri Persalinan pada
Primigravida
Frekuensi
nyeri merupakan jumlah nyeri yang ditimbul dalam periode atau rentan waktu
tertentu. Dalam hal ini, nyeri yang ditimbulkan berasal dari kontraksi,
sehingga perhitungan frekuensi nyeri didasarkan pada frekuensi kontraksi atau
his yang timbul dalam tiap 10 menit. Semakin sering terjadi kontraksi, semakin
sering pula ibu merasakan nyeri.
Akivitas rahim dimulai saat kehamilan. Pada saat Dalam Prawirohardjo (2008)
dijelaskan His sesudah kehamilan 30 minggu terasa lebih kuat dan sering.
Sesudah 36 minggu aktivitas uterus lebih meningkat lagi sampai persalinan
mulai. Sumarah (2009) mengatakan pada awal persalinan kontraksi uterus terjadi
selama 15-20 detik. Pada saat memasuki fase aktif, kontraksi terjadi selama
45-90 detik rata-rata 60
detik.
Dalam Veralls (2003) dijelaskan menjelang akhir kehamilan, glandula adrenalis
fetus mensekresi hormone kortisol dan androgen dengan kadar yang meningkat dan
hormon ini merangsang plasenta untuk meningkatkan sekresi esterogen dan
relaksin yang dihasilkannya. Produksi progesterone tidak berubah, tetapi
perubahan keseimbangan esterogen atau progesteron dan relaksin akan mengurangi
efek relaksasi otot-otot uterus pada gilirannya hal ini akan menyebabkan
pelepasan prostaglandin yang meningkatkan kemampuan otot uterus untuk
berkontraksi. Pelepasan prostaglandin disertai pelepasan oksitosin dari
galndula pituitaria posterior. Dilatasi SBR pada akhir kehamilan juga dipercaya
merangsang pelepasan oksitosin. Fungsi oksitosin, tentu saja untuk merangsang
kontraksi uterus.
Hal
ini sesuai dengan Sumarah (2009) yang mengatakan pemeriksaan kontraksi uterus
meliputi frekuensi, durasi/lama, intensitas / kuat lemahnya. Frekuensi dihitung
dari awal timbulnya kontraksi sampai muncul kontraksi berikutnya. Pada saat
memeriksa durasi / lama kontraksi, perlu diperhatikan bahwa cara pemeriksaan
kontraksi uterus dilakukan dengan palpasi uterus, karena bila berpedoman pada
rasa sakit yang ibu bersalin rasakan kurang akurat. Pada saat awal kontraksi
biasanya ibu bersalin belum merasakan sakit, begitu juga saat kontraksi sudah
berakhir, ibu bersalin masih merasakan sakit. Begitu juga dalam menentukan
intensitas kontraksi uterus / kekuatan kontraksi uterus, hasil
pemeriksaan yang disimpulkan tidak dapat diambil dari seberapa reaksi nyeri ibu
bersalin pada saat kontraksi.
Frekuensi
nyeri mempengaruhi ibu bersalin dalam merespon nyeri. Semakin sering kontraksi
timbul, semakin sering ibu merasakan ibu nyeri, meskipun ambang nyeri tiap
individu berbeda. Pada saat ibu bersalin belum siap menghadapi persalinan,
kurang matang psikologis, tidak mengerti proses persalinan yang ia hadapi akan
bereaksi serius dengan berteriak keras saat kontraksi walaupun kontraksinya lemah.
Sebaliknya ibu bersalin yang sudah siap menghadapi persalinan, matang
psikologis, mengerti tentang proses persalinan, mempunyai ketabahan, kesabaran
yang kuat pernah melahirkan, didampingi keluarga dan didukung oleh penolong
persalinan yang professional, dapat menggunakan teknik pernafasan untuk
relaksasi, maka selama kontraksi yng kuat tidak akan berteriak.

No comments:
Post a Comment