Sunday, 1 June 2014


Tubektomi
Kontrasepsi Mantap Untuk Wanita (Contraseptive for Womens)
 Definisi
Tubektomi adalah Prosedur tindakan memotong atau menutup pada saluran tuba falopi pada perempuan untuk menghentikan fertilitas (kesuburan) atau mencegah bertemunya sel telur dan sel sperma secara permanen, yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang memang tidak ingin atau boleh memiliki anak (karena alas an kesehatan. Disebut permanen karena metode kontrasepsi ini tidak dapat dibatalkan (reversal) bila kemudian Anda ingin punya anak. Tubektomi ini disebut juga MOW (Metode Operasi Wanita) dengan sterilisasi tubektomi.
        Pada awal perkembangannya tubektomi atau biasanya dikenal dengan sterilisasi dilakukan terutama atas indikasi medik, seperti kelainan jiwa, kemungkinan kehamilan yang dapat membahayakan jiwa ibu, atau penyakit keturunan. Namun seiring dengan terjadinya peledakan jumlah penduduk dunia, konsep tersebut telah berubah, dan sekarang kontap merupakan salah satu upaya pembatasan jumlah anak.

Waktu pelaksanaan tubektomi :
·       Masa interval : selesai haid
·     Pasca persalinan : sebaiknya sebelum 24 jam dan selambat-lambatnya 48 jam pasca persalinan. Jika lewat dari 48 jam maka tindakan tubektomi akan dipersulit oleh udem tuba, infeksi sehingga dapat mengakibatkan kegagalan sterilisasi.. jika dilakukan 7-10 hari pasca persalinan maka uterus dan alat-alat genital lainnya telah mengecil dan operasi menjadi lebih sulit dilakukan mudah berdarah dan infeksi..
·       Pasca keguguran (post abortum) : sesudah terjadi abortus dapat langsung dilakukan sterilisasi.
·   Waktu operasi membuka perut: setiap operasi yang dilakukan dengan membuka perut perlu dipikirkan apakah sudah ada indikasi untuk sterilisasi.

Kapan Tubektomi bisa dilaksanakan?
·            Sudah mantapkah anda memilih tubektomi sebagai metode kontrasepsi pilihan anda? jika iya, pertanyaan di atas memang tepat anda layangkan. Kapan tubektomi bisa dilaksanakan? Namun jika anda masih ragu, saran saya lebih baik anda berpikir ulang untuk melakukannya sebelum anda menyesal di kemudian hari. Kenapa demikian? Karena, sekali lagi, metode ini merupakan metode permanen yang sulit untuk dipulihkan kembali.
·       Tapi, apabila memang inilah pilihan anda, saya akan menjawab kepenasaranan anda atas pertanyaan di atas.
·       Tubektomi bisa dilaksanakan setiap waktu selama siklus menstruasi selama anda yakin tidak sedang hamil, atau diprediksi sedang hamil. Atau anda juga bisa menghitung dari situs menstruasi anda, yaitu hari ke 6 hingga hari ke 13 siklus menstruasi anda.
·       Apabila anda saat ini sedang hamil, dan merencanakan untuk melaksanakan metode tubektomi pascapersalinan nanti, maka disarankan anda memilih metode minilaparotomi dalam waktu 2 hari, atau setelah 6 minggu, atau 12 minggu pascapersalinan. Metode laparoskopi tidak tepat untuk anda yang baru bersalin.
·       Sedangkan untuk anda yang mengalami keguguran, dan ingin menghentikan untuk tidak lagi hamil karena satu dan lain sebab, maka triwulan pertama pasca keguguran boleh dengan metode minilaparotomi atau laparoskopi. Ketika masuk triwulan kedua pascakeguguran, hanya minilaparotomi saja yang diperbolehkan.
·       Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter ahli kandungan jika anda menginginkan metode kontrasepsi ini sebagai metode kontrasepsi anda.

Informed Consent
·       Pada sub bagian siapa yang diperbolehkan dan siapa yang tidak diperbolehkan ber-KB Tubektomi, anda sudah membaca sekilas tentang informed consent.
·       Apa itu informed consent? Informed consent adalah lembar pernyataan dan persetujuan bahwa anda akan memilih metode ini. Dalam informed consent ini terdapat lembaran yang harus ditanda tangani oleh anda dan juga suami anda.
·       Pastikan anda memperoleh informed consent terlebih dahulu sebelum dilakukan operasi. Dan anda berhak untuk berubah pikiran setiap waktu, sebelum prosedur operasi ini dilaksanakan.
·       Jika benar-benar mantap, lembar persetujuan sudah ditanda tangani, maka operasi pun akan dilaksanakan. Jika sudah dilaksanakan, Jagalah luka operasi agar tetap kering hingga balutan operasi dilepaskan. Mulai lagi aktivitas anda secara bertahap (sebaiknya anda beraktivitas normal kembali setelah 7 hari pascaoperasi) untuk menjaga agar bekas operasi tidak menjadi infeksi.
·       Hindari dulu hubungan intim dengan suami hingga anda benar-benar merasa nyaman. Hindari pula mengangkat benda-benda berat dan bekerja keras selama 7 hari pertama setelah operasi. Jika bekas operasi terasa sakit, minumlah 1 atau 2 tablet analgesic penghilang nyeri setiap 4 hingga 6 jam. Buatlah jadwal kunjungan pemeriksaan secara rutin antara 7 hingga 14 hari setelah operasi.

Cara Tubektomi
Cara tubektomi dapat dibagi berdasarkan atas :
1.    Saat operasi
2.    Cara mencapai tuba
3.    Cara penutupan tuba

1.         Saat Operasi
Tubektomi dapat dilakukan pasca keguguran, pasca persalinan atau masa interval sesudah keguguran tubektomi dapat langsung dilakukan. Dianjurkan agar tubektomi pasca persalinan sebaiknya dilakukan dalam 24 jam, atau selambat-lambatnya dalam 48 jam setelah bersalin. Tubektomi pada persalinan lewat 48 jam akan dipersulit oleh edema tuba, infeksi dan kegagalan. Edema tuba akan berkurang setelah hari ke 7-10 pasca persalinan. Tubektomi setelah hari itu akan lebih sulit dilakukan karena alat-alat genital telah menciut dan mudah berdarah.
2.         Cara mencapai Tuba
Cara-cara yang dilakukan di indonesia saat ini ialah dengan laparotomi, laparotomi mini, dan laparoskopi.
-        Laparotomi
Cara mencapai tuba melalui laparotomi biasa, terutama pada masa pasca persalinan, merupakan cara yang banyak dilakukan di Indonesia sebelum tahun 70-an. Tubektomi juga dilakukan bersamaan dengan seksio sesarea, dimana kehamilan selanjutnya tidak diinginkan lagi, sebaiknya setiap laparotomi harus dijadikan kesempatan untuk menawarkan tubektomi.
-        Laparotomi mini
Laparotomi khusus tubektomi ini paling mudah dilakukan 1-2 hari pasca persalinan. Uterus yang masih besar, tuba yang masih panjang, dan dinding perut yang masih longgar memudahkan mencapai tuba dengan sayatan kecil sepanjang 1-2 cm dibawah pusat. Kalau tubektomi dilakukan pada 3-5 hari postpartum, maka dapat dilakukan insisi mediana karena uterus dan tuba telah berinvolusi. Dilakukan insisi mediana setinggi 2 jari dibawah fundus uteri sepanjang 1-2 cm.
-        Laparoskopi
Laparoskop dimasukkan ke dalam selubung dan alat panggul diperiksa. Tuba dicari dengan menggunakan manipulasi uterus dari kanula rubin, lalu sterilisasi dilakukan dengan menaggunakan cincin folope yang dipasang pada pars ampularis tuba. Setelah yakin tidak terdapat perdarahan, pnemoperitonium dikelurkan dengan menekan dinding perut. Luka ditutup dengan 2 jahitan subkutikuler, lalu dipasang band aid. Pasien dapat dipulang 6-8 jam.



 
 3.       Cara penutupan Tuba
1.       Cara Madlener : Bagian tengah dari tuba diangkat dengan cunam Pean sehingga terbentuk suatu lipatan terbuka. Kemudian dari dasar lipatan tersebut dijepit dengan cunam kuat-kuat, dans elanjutnya dasar itu diikat dengan benang yang tidak dapat diserap. Pada cara ini tidak dilakukan pemotongan tuba. Sekarang cara Madlener tidak dilakukan lagi karena angka kegagalannya relative tinggi yaitu 1-3%.

 
 
2.       Cara Pomeroy : Cara ini banyak dilakukan. Cara ini dilakukan dengan mengangkat bagian tengah dari tuba sehingga membentuk suatu lipatan terbuka, kemudian dasarnya diikat dengan benang dapat diserap, tuba di atas dasar  itu dipotong. Setelah benang pengikat diserap,maka ujung-ujung tuba terpisah satu sama lain. Angka kegagalan berkisar 0 – 0,4%.



 
 
3.       Cara Irving : Pada cara ini tuba dipotong antara dua ikatan benang yang dapat diserao; ujung proksimal dari tuba ditanamkan ke dalam miometrium, sedangkan ujung distal ditanamkan ke dalam ligamentum latum.



 

4.       Cara Aldridge : Peritneum dari ligamentum latum dibuka dan kemudian tuba bagian distal bersama-sama dengan fimbriae ditanam ke dalam ligamentum latum.







 
 
  5.       Cara Uchida : Pada cara ini tuba ditarik ke luar abdomen melalui suatu insisi kecil (minilaparotomi) diatas simfisis pubis. Kemudian di daerah ampula tuba dilakukan suntikan dengan larutan adrenalin dalam air garam di bawah serosa tuba. Akibat suntikan ini, mesosalping daerah tersebut menggembung. Lalu dibuat sayatan kecil, di daerah yang kembung tersebut.Serosa dibebaskan dari tuba sepanjang 4-5 cm, tuba dicari dan setelah ditemukan dijepit,diikat lalu digunting. Ujung tuba yang proksimal akan tertanam dengan sendirinya dibawah serosa, sedangkan ujung tuba yang distal dibiarkan berada di luar serosa. Luka sayatan dijahit secara kantong tembakau. Angka kegagalan cara ini adalah 0.
6.       Cara Kroener : Bagian fimbria dari tuba dikeluarkan dari lubang operasi. Suatu ikatan dengan benang sutera dibuat melalui bagian mesosalping di bawah fimbria. Jahitan ini diikat dua kali,satu mengelilingi tuba dan yang lain mengelilingi tuba sebelah proksimal dari jahitan sebelumnya. Seluruh fimbria dipotong. Setelah pasti tidak ada perdarahan, maka tuba dikembalikan ke dalam rongga perut. Teknik ini banyak digunakan. Keuntungan cara iniantara lain adalah sangat kecilnya kemungkinan kesalahan mengikat ligamentum rotundum. Angka kesalahan 0,19%.

Siapa sajakah yang boleh dan tidak boleh ber-tubektomi?
Sebagai perempuan, anda dihadapkan pada pilihan yang sulit jika anda tidak menggunakan alat kontrasepsi. Kemungkinan anda akan hamil sangat berpeluang besar meskipun usia anda sudah 40 tahun. Apa pasal? Karena ketika seorang perempuan masih berada dalam kisaran usia subur, maka kemungkinan untuk hamil akan tetap ada.
Maka dari itu, ketika anda sudah memantapkan diri untuk tidak memiliki anak lagi, dan anda tidak ingin direpotkan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi yang harus anda pakai secara reguler, maka pilihan anda sudah tepat jika anda memilih tubektomi. Tapi, sebelum anda memilih tubektomi, sudah selayaknya anda mengetahui siapa sajakah yang boleh ber-KB tubektomi dan siapa saja yang tidak boleh ber-KB tubektomi.
·         Yang boleh ber-KB tubektomi
Siapa saja yang boleh tubektomi? Berikut adalah syarat-syaratnya:
1.    Perempuan usia diatas 26 tahun
2.    Memiliki keturunan lebih dari dua
3.    Sudah memiliki keinginan dan keyakinan untuk tidak menambah anak lagi
4. Perempuan yang jika hamil, akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius dan membahayakan.
5.  Memahami prosedur dan tindakan tubektomi, serta sukarela setuju dengan prosedur tubektomi.

·         Yang tidak boleh ber-KB tubektomi
Siapa saja yang sebaiknya tidak boleh menjalani tubektomi? ini dia:
1.    Perempuan yang sedang hamil atau terdeteksi hamil
2.    Terjadi perdarahan vaginal yang belum jelas penyebabnya. Harus ada pemeriksaan jika terjadi hal ini.
3.    Terjadi infeksi daerah pelvik ataupun di daerah rahim yang akut, hingga disembuhkan terlebih dahulu.
4.    Perempuan yang tidak boleh menjalani proses pembedahan
5.    Belum memiliki keyakinan yang pasti tentang keinginannya melaksanakan tubektomi
6.    Tidak memiliki izin dari suami, serta
7.    Belum memberikan persetujuan tertulis.
   Penting untuk diingat : ketika akan menjalani operasi tubektomi, anda harus menandatangi form persetujuan terlebih dahulu (informed consent).

Manfaat dan Keterbatasan Tubektomi
Sebelum anda mengambil keputusan tentang tubektomi, sebaiknya anda mengetahui terlebih dahulu apa manfaat dan bagaimana keterbatasan dari tubektomi ini. berikut adalah manfaat dan keterbatasan tubektomi.
Manfaat:
1.       Sangat efektif, karena merupakan metode kontrasepsi permanen.
2.       Tidak mempengaruhi proses pemberian ASI
3.       Tidak bergantung pada faktor senggama
4.  Akan lebih bermanfaat bagi anda yang memiliki riwayat kehamilan beresiko karena akan terhindar dari keadaan tersebut
5.       Dilakukan dengan pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
6.       Tidak ada efek samping dalam jangka panjang, serta
7.   Tidak mempengaruhi keadaan fungsi seksual karena tidak ada efek pada produksi hormone ovarium.
Keterbatasan:
1.   Metode ini merupakan metode kontrasepsi permanen yang tidak dapat dipulihkan kembali, kecuali dengan operasi rekanalisasi
2.       Anda mungkin akan menyesal di kemudian hari karena memilih metode ini. Ini bisa terjadi jika anda belum memiliki keyakinan yang benar-benar mantap memilih metode ini.
3.       Akan mengalami rasa sakit dan ketidaknyamanan jangka pendek setelah dilakukan pembedahan
4.       Risiko komplikasi dapat meningkat jika dilakukan anestesi umum
5.     Dibutuhkan dokter spesialis ginekologi atau dokter spesialis bedah jika yang dilakukan adalah proses laparoskopi
6.       Tidak dapat melindungi anda dari infeksi menular seksual, termasuk HIV/AIDS.

 

Efektivitas Sterilisasi

Indeks efektivitas sterilisasi (disebut indeks Pearl) adalah 0.1 – 0.4. Nilai ini menunjukkan jumlah kehamilan yang tidak diinginkan pada 100 wanita yang menggunakan metode kontrasepsi itu selama setahun. Artinya, kurang dari satu kehamilan yang tidak diinginkan dalam setahun per 100-200 wanita yang telah disterilisasi. Pada kasus yang sangat jarang terjadi itu, tuba falopi wanita kembali menyambung setelah dipotong atau ditutup.

Komplikasi

Setelah operasi, Anda akan merasakan sakit dan mual dalam 4-8 jam pertama (Anda mungkin perlu obat penghilang rasa sakit untuk sementara). Perut akan tidak nyaman selama 24 sampai 36 jam. Anestesi mungkin menimbulkan mual, muntah, kantuk, gemetaran dan reaksi negatif lainnya. Seperti pembedahan lainnya, tubektomi berisiko infeksi, perdarahan, kerusakan akibat kecelakaan pada organ lain,  dan komplikasi lainnya. Namun, risiko komplikasi ini cukup rendah. Menurut jurnal Obstetrics and Gynecology, risiko komplikasi tubektomi laparoskopi kurang dari satu persen.
Risiko lebih tinggi pada wanita yang merokok, kelebihan berat badan, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti infeksi panggul. Anda dapat mengurangi risiko komplikasi dengan mengikuti instruksi dokter sebelum dan setelah prosedur. Komplikasi jarang lainnya adalah penyakit radang panggul, di mana infeksi meluas dalam saluran tuba dan rahim dan mungkin juga melibatkan struktur perut lainnya.

 

Efek Samping

Dalam beberapa kasus, sindrom pasca-tubektomi dapat terjadi. Sindrom ini adalah sekelompok gejala yang mencakup:
·         Menstruasi tidak teratur
·         Rasa panas (hot flashes)
·         Keringat malam
·         Panas dingin
·         Kecemasan atau depresi
·         Penipisan rambut dan kuku
·         Nyeri payudara
·         Berat badan naik/turun
·         Osteoporosis
·         Prolaps uterus

Kehamilan setelah bedah sterilisasi sangat jarang, tetapi bisa terjadi. Hal ini disebabkan oleh reanastomosa tuba falopi (tuba falopi menyambung kembali), sehingga kesuburan kembali hadir. Sekitar 18 dari 1.000 wanita yang telah disterilisasi hamil dalam waktu 10 tahun. Pada kasus ini, risiko kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim) lebih besar.
Tubektomi biasanya tidak mempengaruhi dorongan seksual (libido) wanita, dan bahkan dapat meningkatkan hasrat wanita dalam aktivitas seksual karena dia tidak lagi khawatir dengan kehamilan yang tidak diinginkan.

Potensi komplikasi

Risiko sterilisasi, seperti halnya operasi lainnya, terutama berkaitan dengan anestesi. Ahli bedah juga dapat tanpa sengaja merusak ligamen peritoneal selama operasi. Jika ligamen peritoneal rusak, produksi hormon pada ovarium menurun dan menopause bisa dimulai dini. Potensi komplikasi lainnya (sangat jarang) adalah kehamilan ektopik dan gangguan menstruasi.
Hormon, gairah seks dan siklus haid seharusnya tidak berubah setelah sterilisasi. Beberapa wanita dan pasangannya bahkan lebih bergairah secara seksual, karena mereka tidak lagi takut dengan kehamilan yang tidak direncanakan.


Tindak Lanjut
1.     1 Minggu pasca operasi, pemeiksaan adanya keluhan nyeri perut, tekanan darah, nadi, suhu dan pemeriksaan perut dengan palpasi, tidak dilakukan pemeriksaan dalam.
2.   1 bulan pasca operasi, diperlukan pemeriksaan tentang haid, periksa dalam dan bila perlu dilakukan patensi tuba.
3.       3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun pasca operasi ádalah untuk mengetahui keadaan haid, kemungkinan komplikasi, kemungkinan hamil, kesehatan badan, hubungan seks dan perkawinan.

 

Tips bagi Anda

·         Sterilisasi masih menjadi kontroversi dari segi agama. Sebagian besar ulama mengharamkan sterilisasi yang tidak memiliki indikasi medis (kehamilan berikutnya membahayakan keselamatan ibu dan bayinya). Bila Anda orang yang taat beragama, sebaiknya mendapatkan nasihat ahli agama sebelum memutuskan untuk mengambil prosedur sterilisasi.
·         Konsultasikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan informasi menyeluruh tentang sterilisasi. Ginekolog Anda dapat menjelaskan jenis operasi yang dilakukan dan risiko-risikonya.
·         Beberapa wanita menderita gangguan emosi dan penyesalan setelah operasi, karena kehilangan peluang hamil lagi. Sangat penting untuk merenungkan masak-masak sebelum membuat keputusan akhir. Jangan memutuskan ketika Anda sedang kalut atau krisis, misalnya setelah keguguran. Bicarakanlah dengan suami Anda tentang operasi ini, konsekuensinya dan alternatif tindakan lain yang mungkin dapat dipertimbangkan. Keputusan jelas terserah pada Anda, tetapi dalam kasus sterilisasi itu adalah final. Rumah sakit biasanya mensyaratkan tanda tangan suami bila Anda akan menjalani operasi ini, tetapi itu bukanlah persyaratan yang wajib.
·         Bila Anda memiliki asuransi kesehatan, baik melalui kantor atau membeli sendiri, polis asuransi Anda mungkin menanggung biaya operasi sterilisasi yang berindikasi medis. Tanyakan pada bagian personalia atau agen asuransi Anda seberapa banyak yang ditanggung dan apa syarat-syaratnya.


No comments:

Post a Comment