Tubektomi
Kontrasepsi Mantap Untuk Wanita (Contraseptive for Womens)
Definisi
Tubektomi adalah
Prosedur tindakan memotong atau menutup pada saluran tuba falopi pada perempuan
untuk menghentikan fertilitas (kesuburan) atau mencegah bertemunya sel telur
dan sel sperma secara permanen, yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang
memang tidak ingin atau boleh memiliki anak (karena alas an kesehatan. Disebut permanen
karena metode kontrasepsi ini tidak dapat dibatalkan (reversal) bila kemudian
Anda ingin punya anak. Tubektomi ini disebut juga MOW (Metode Operasi Wanita)
dengan sterilisasi tubektomi.
Pada awal perkembangannya tubektomi
atau biasanya dikenal dengan sterilisasi dilakukan terutama atas indikasi
medik, seperti kelainan jiwa, kemungkinan kehamilan yang dapat membahayakan
jiwa ibu, atau penyakit keturunan. Namun seiring dengan terjadinya peledakan
jumlah penduduk dunia, konsep tersebut telah berubah, dan sekarang kontap
merupakan salah satu upaya pembatasan jumlah anak.
Waktu pelaksanaan tubektomi :
·
Masa interval : selesai haid
· Pasca persalinan : sebaiknya sebelum 24
jam dan selambat-lambatnya 48 jam pasca persalinan. Jika lewat dari 48 jam maka
tindakan tubektomi akan dipersulit oleh udem tuba, infeksi sehingga dapat
mengakibatkan kegagalan sterilisasi.. jika dilakukan 7-10 hari pasca persalinan
maka uterus dan alat-alat genital lainnya telah mengecil dan operasi menjadi
lebih sulit dilakukan mudah berdarah dan infeksi..
·
Pasca keguguran (post abortum) :
sesudah terjadi abortus dapat langsung dilakukan sterilisasi.
· Waktu operasi membuka perut: setiap
operasi yang dilakukan dengan membuka perut perlu dipikirkan apakah sudah ada
indikasi untuk sterilisasi.
Kapan Tubektomi bisa
dilaksanakan?
·
Sudah
mantapkah anda memilih tubektomi sebagai metode kontrasepsi pilihan anda? jika
iya, pertanyaan di atas memang tepat anda layangkan. Kapan tubektomi bisa
dilaksanakan? Namun jika anda masih ragu, saran saya lebih baik anda berpikir
ulang untuk melakukannya sebelum anda menyesal di kemudian hari. Kenapa
demikian? Karena, sekali lagi, metode ini merupakan metode permanen yang sulit
untuk dipulihkan kembali.
·
Tapi,
apabila memang inilah pilihan anda, saya akan menjawab kepenasaranan anda atas
pertanyaan di atas.
·
Tubektomi
bisa dilaksanakan setiap waktu selama siklus menstruasi selama anda yakin tidak
sedang hamil, atau diprediksi sedang hamil. Atau anda juga bisa menghitung dari
situs menstruasi anda, yaitu hari ke 6 hingga hari ke 13 siklus menstruasi
anda.
·
Apabila
anda saat ini sedang hamil, dan merencanakan untuk melaksanakan metode
tubektomi pascapersalinan nanti, maka disarankan anda memilih metode
minilaparotomi dalam waktu 2 hari, atau setelah 6 minggu, atau 12 minggu
pascapersalinan. Metode laparoskopi tidak tepat untuk anda yang baru bersalin.
·
Sedangkan
untuk anda yang mengalami keguguran, dan ingin menghentikan untuk tidak lagi
hamil karena satu dan lain sebab, maka triwulan pertama pasca keguguran boleh
dengan metode minilaparotomi atau laparoskopi. Ketika masuk triwulan kedua
pascakeguguran, hanya minilaparotomi saja yang diperbolehkan.
·
Konsultasikan
terlebih dahulu dengan dokter ahli kandungan jika anda menginginkan metode
kontrasepsi ini sebagai metode kontrasepsi anda.
Informed Consent
·
Pada
sub bagian siapa yang diperbolehkan dan siapa yang tidak diperbolehkan ber-KB
Tubektomi, anda sudah membaca sekilas tentang informed consent.
·
Apa
itu informed consent? Informed consent adalah lembar pernyataan dan persetujuan
bahwa anda akan memilih metode ini. Dalam informed consent ini terdapat
lembaran yang harus ditanda tangani oleh anda dan juga suami anda.
·
Pastikan
anda memperoleh informed consent terlebih dahulu sebelum dilakukan operasi. Dan
anda berhak untuk berubah pikiran setiap waktu, sebelum prosedur operasi ini
dilaksanakan.
·
Jika
benar-benar mantap, lembar persetujuan sudah ditanda tangani, maka operasi pun
akan dilaksanakan. Jika sudah dilaksanakan, Jagalah luka operasi agar tetap
kering hingga balutan operasi dilepaskan. Mulai lagi aktivitas anda secara
bertahap (sebaiknya anda beraktivitas normal kembali setelah 7 hari
pascaoperasi) untuk menjaga agar bekas operasi tidak menjadi infeksi.
·
Hindari
dulu hubungan intim dengan suami hingga anda benar-benar merasa nyaman. Hindari
pula mengangkat benda-benda berat dan bekerja keras selama 7 hari pertama
setelah operasi. Jika bekas operasi terasa sakit, minumlah 1 atau 2 tablet
analgesic penghilang nyeri setiap 4 hingga 6 jam. Buatlah jadwal kunjungan pemeriksaan
secara rutin antara 7 hingga 14 hari setelah operasi.
Cara Tubektomi
Cara tubektomi
dapat dibagi berdasarkan atas :
1.
Saat operasi
2.
Cara mencapai tuba
3.
Cara penutupan tuba
1.
Saat Operasi
Tubektomi dapat dilakukan pasca keguguran, pasca
persalinan atau masa interval sesudah keguguran tubektomi dapat langsung
dilakukan. Dianjurkan agar tubektomi pasca persalinan sebaiknya dilakukan dalam
24 jam, atau selambat-lambatnya dalam 48 jam setelah bersalin.
Tubektomi pada persalinan lewat 48 jam akan dipersulit oleh
edema tuba, infeksi dan kegagalan. Edema tuba akan berkurang setelah hari ke
7-10 pasca persalinan. Tubektomi setelah hari itu akan lebih sulit dilakukan
karena alat-alat genital telah menciut dan mudah berdarah.
2.
Cara mencapai Tuba
Cara-cara yang dilakukan di indonesia saat ini ialah
dengan laparotomi, laparotomi mini, dan laparoskopi.
-
Laparotomi
Cara mencapai tuba melalui laparotomi biasa, terutama
pada masa pasca persalinan, merupakan cara yang banyak dilakukan di Indonesia
sebelum tahun 70-an. Tubektomi juga dilakukan bersamaan dengan seksio sesarea,
dimana kehamilan selanjutnya tidak diinginkan lagi, sebaiknya setiap laparotomi
harus dijadikan kesempatan untuk menawarkan tubektomi.
-
Laparotomi mini
Laparotomi khusus tubektomi ini paling mudah dilakukan
1-2 hari pasca persalinan. Uterus yang masih besar, tuba yang masih panjang,
dan dinding perut yang masih longgar memudahkan mencapai tuba dengan sayatan
kecil sepanjang 1-2 cm dibawah pusat. Kalau tubektomi dilakukan pada 3-5 hari postpartum, maka
dapat dilakukan insisi mediana karena uterus dan tuba telah berinvolusi.
Dilakukan insisi mediana setinggi 2 jari dibawah fundus uteri sepanjang 1-2 cm.
-
Laparoskopi
Laparoskop dimasukkan ke dalam selubung dan alat panggul
diperiksa. Tuba dicari dengan menggunakan manipulasi uterus dari kanula rubin,
lalu sterilisasi dilakukan dengan menaggunakan cincin folope yang dipasang pada
pars ampularis tuba. Setelah yakin tidak terdapat perdarahan, pnemoperitonium
dikelurkan dengan menekan dinding perut. Luka ditutup dengan 2 jahitan
subkutikuler, lalu dipasang band aid. Pasien dapat dipulang 6-8 jam.
3. Cara penutupan Tuba
1.
Cara Madlener : Bagian
tengah dari tuba diangkat dengan cunam Pean sehingga terbentuk suatu lipatan terbuka.
Kemudian dari dasar lipatan tersebut dijepit dengan cunam kuat-kuat, dans elanjutnya
dasar itu diikat dengan benang yang tidak dapat diserap. Pada cara ini
tidak dilakukan pemotongan tuba. Sekarang cara Madlener tidak dilakukan
lagi karena angka kegagalannya relative tinggi yaitu 1-3%.
2.
Cara Pomeroy : Cara
ini banyak dilakukan. Cara ini dilakukan dengan mengangkat bagian tengah dari tuba
sehingga membentuk suatu lipatan terbuka, kemudian dasarnya diikat dengan benang
dapat diserap, tuba di atas dasar itu
dipotong. Setelah benang pengikat diserap,maka ujung-ujung tuba terpisah satu
sama lain. Angka kegagalan berkisar 0 – 0,4%.
3.
Cara Irving : Pada
cara ini tuba dipotong antara dua ikatan benang yang dapat diserao; ujung
proksimal dari tuba ditanamkan ke dalam miometrium, sedangkan ujung distal
ditanamkan ke dalam ligamentum latum.
4.
Cara Aldridge : Peritneum
dari ligamentum latum dibuka dan kemudian tuba bagian distal bersama-sama dengan
fimbriae ditanam ke dalam ligamentum latum.
5.
Cara Uchida : Pada
cara ini tuba ditarik ke luar abdomen melalui suatu insisi kecil
(minilaparotomi) diatas simfisis pubis. Kemudian di daerah ampula tuba
dilakukan suntikan dengan larutan adrenalin dalam air garam di bawah serosa
tuba. Akibat suntikan ini, mesosalping daerah tersebut menggembung. Lalu dibuat
sayatan kecil, di daerah yang kembung tersebut.Serosa dibebaskan dari tuba
sepanjang 4-5 cm, tuba dicari dan setelah ditemukan dijepit,diikat lalu
digunting. Ujung tuba yang proksimal akan tertanam dengan sendirinya dibawah
serosa, sedangkan ujung tuba yang distal dibiarkan berada di luar serosa. Luka sayatan
dijahit secara kantong tembakau. Angka kegagalan cara ini adalah 0.
6.
Cara Kroener : Bagian
fimbria dari tuba dikeluarkan dari lubang operasi. Suatu ikatan dengan benang sutera
dibuat melalui bagian mesosalping di bawah fimbria. Jahitan ini diikat dua
kali,satu mengelilingi tuba dan yang lain mengelilingi tuba sebelah proksimal
dari jahitan sebelumnya. Seluruh fimbria dipotong. Setelah pasti tidak ada
perdarahan, maka tuba dikembalikan ke dalam rongga perut. Teknik ini banyak
digunakan. Keuntungan cara iniantara lain adalah sangat kecilnya kemungkinan
kesalahan mengikat ligamentum rotundum. Angka kesalahan 0,19%.
Siapa sajakah yang boleh dan tidak
boleh ber-tubektomi?
Sebagai perempuan,
anda dihadapkan pada pilihan yang sulit jika anda tidak menggunakan alat
kontrasepsi. Kemungkinan anda akan hamil sangat berpeluang besar meskipun usia
anda sudah 40 tahun. Apa pasal? Karena ketika seorang perempuan masih berada
dalam kisaran usia subur, maka kemungkinan untuk hamil akan tetap ada.
Maka dari itu, ketika
anda sudah memantapkan diri untuk tidak memiliki anak lagi, dan anda tidak
ingin direpotkan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi yang harus anda pakai
secara reguler, maka pilihan anda sudah tepat jika anda memilih tubektomi. Tapi,
sebelum anda memilih tubektomi, sudah selayaknya anda mengetahui siapa sajakah
yang boleh ber-KB tubektomi dan siapa saja yang tidak boleh ber-KB tubektomi.
·
Yang boleh
ber-KB tubektomi
Siapa
saja yang boleh tubektomi? Berikut adalah syarat-syaratnya:
1.
Perempuan usia diatas 26 tahun
2.
Memiliki keturunan lebih dari dua
3.
Sudah memiliki keinginan dan keyakinan
untuk tidak menambah anak lagi
4. Perempuan yang jika hamil, akan
menimbulkan resiko kesehatan yang serius dan membahayakan.
5. Memahami prosedur dan tindakan
tubektomi, serta sukarela setuju dengan prosedur tubektomi.
·
Yang tidak
boleh ber-KB tubektomi
Siapa
saja yang sebaiknya tidak boleh menjalani tubektomi? ini dia:
1.
Perempuan yang sedang hamil atau
terdeteksi hamil
2.
Terjadi perdarahan vaginal yang belum
jelas penyebabnya. Harus ada pemeriksaan jika terjadi hal ini.
3.
Terjadi infeksi daerah pelvik ataupun
di daerah rahim yang akut, hingga disembuhkan terlebih dahulu.
4.
Perempuan yang tidak boleh menjalani
proses pembedahan
5.
Belum memiliki keyakinan yang pasti
tentang keinginannya melaksanakan tubektomi
6.
Tidak memiliki izin dari suami, serta
7.
Belum memberikan persetujuan tertulis.
Penting untuk diingat : ketika akan
menjalani operasi tubektomi, anda harus menandatangi form persetujuan terlebih
dahulu (informed consent).
Manfaat dan Keterbatasan Tubektomi
Sebelum anda
mengambil keputusan tentang tubektomi, sebaiknya anda mengetahui terlebih
dahulu apa manfaat dan bagaimana keterbatasan dari tubektomi ini. berikut
adalah manfaat dan keterbatasan tubektomi.
Manfaat:
1.
Sangat efektif, karena merupakan metode
kontrasepsi permanen.
2.
Tidak mempengaruhi proses pemberian ASI
3.
Tidak bergantung pada faktor senggama
4. Akan lebih bermanfaat bagi anda yang
memiliki riwayat kehamilan beresiko karena akan terhindar dari keadaan tersebut
5.
Dilakukan dengan pembedahan sederhana,
dapat dilakukan dengan anestesi lokal
6.
Tidak ada efek samping dalam jangka
panjang, serta
7. Tidak mempengaruhi keadaan fungsi
seksual karena tidak ada efek pada produksi hormone ovarium.
Keterbatasan:
1. Metode ini merupakan metode kontrasepsi
permanen yang tidak dapat dipulihkan kembali, kecuali dengan operasi
rekanalisasi
2.
Anda mungkin akan menyesal di kemudian
hari karena memilih metode ini. Ini bisa terjadi jika anda belum memiliki
keyakinan yang benar-benar mantap memilih metode ini.
3.
Akan mengalami rasa sakit dan
ketidaknyamanan jangka pendek setelah dilakukan pembedahan
4.
Risiko komplikasi dapat meningkat jika
dilakukan anestesi umum
5. Dibutuhkan dokter spesialis ginekologi
atau dokter spesialis bedah jika yang dilakukan adalah proses laparoskopi
6.
Tidak dapat melindungi anda dari
infeksi menular seksual, termasuk HIV/AIDS.
Efektivitas Sterilisasi
Indeks
efektivitas sterilisasi (disebut indeks Pearl) adalah 0.1 – 0.4. Nilai ini
menunjukkan jumlah kehamilan yang tidak diinginkan pada 100 wanita yang menggunakan
metode kontrasepsi itu selama setahun. Artinya, kurang dari satu kehamilan yang
tidak diinginkan dalam setahun per 100-200 wanita yang telah
disterilisasi. Pada kasus yang sangat jarang terjadi itu, tuba falopi
wanita kembali menyambung setelah dipotong atau ditutup.
Komplikasi
Setelah
operasi, Anda akan merasakan sakit dan mual dalam 4-8 jam pertama (Anda mungkin
perlu obat penghilang rasa sakit untuk sementara). Perut akan tidak nyaman
selama 24 sampai 36 jam. Anestesi mungkin menimbulkan mual, muntah,
kantuk, gemetaran dan reaksi negatif lainnya. Seperti pembedahan lainnya,
tubektomi berisiko infeksi, perdarahan, kerusakan akibat kecelakaan pada organ lain,
dan komplikasi lainnya. Namun, risiko komplikasi ini cukup rendah.
Menurut jurnal Obstetrics
and Gynecology, risiko komplikasi tubektomi laparoskopi kurang dari
satu persen.
Risiko
lebih tinggi pada wanita yang merokok, kelebihan berat badan, atau memiliki
kondisi kesehatan tertentu seperti infeksi panggul. Anda dapat mengurangi risiko
komplikasi dengan mengikuti instruksi dokter sebelum dan setelah prosedur. Komplikasi
jarang lainnya adalah penyakit radang panggul, di mana infeksi meluas dalam
saluran tuba dan rahim dan mungkin juga melibatkan struktur perut lainnya.
Efek Samping
Dalam beberapa kasus, sindrom
pasca-tubektomi dapat terjadi. Sindrom ini adalah sekelompok gejala yang
mencakup:
·
Menstruasi tidak teratur
·
Rasa panas (hot flashes)
·
Keringat malam
·
Panas dingin
·
Kecemasan atau depresi
·
Penipisan rambut dan kuku
·
Nyeri payudara
·
Berat badan naik/turun
·
Osteoporosis
·
Prolaps uterus
Kehamilan
setelah bedah sterilisasi sangat jarang, tetapi bisa terjadi. Hal ini
disebabkan oleh reanastomosa tuba falopi (tuba falopi menyambung kembali),
sehingga kesuburan kembali hadir. Sekitar 18 dari 1.000 wanita yang telah
disterilisasi hamil dalam waktu 10 tahun. Pada kasus ini, risiko kehamilan
ektopik (kehamilan di luar rahim) lebih besar.
Tubektomi
biasanya tidak mempengaruhi dorongan seksual (libido) wanita, dan bahkan dapat
meningkatkan hasrat wanita dalam aktivitas seksual karena dia tidak lagi
khawatir dengan kehamilan yang tidak diinginkan.
Potensi komplikasi
Risiko
sterilisasi, seperti halnya operasi lainnya, terutama berkaitan dengan
anestesi. Ahli bedah juga dapat tanpa sengaja merusak ligamen peritoneal selama
operasi. Jika ligamen peritoneal rusak, produksi hormon pada ovarium
menurun dan menopause bisa dimulai dini. Potensi komplikasi lainnya (sangat
jarang) adalah kehamilan ektopik dan gangguan menstruasi.
Hormon, gairah seks dan siklus
haid seharusnya tidak berubah setelah sterilisasi. Beberapa wanita dan
pasangannya bahkan lebih bergairah secara seksual, karena mereka tidak
lagi takut dengan kehamilan yang tidak direncanakan.
Tindak
Lanjut
1. 1 Minggu pasca operasi, pemeiksaan adanya keluhan nyeri perut, tekanan
darah, nadi, suhu dan pemeriksaan perut dengan palpasi, tidak dilakukan
pemeriksaan dalam.
2. 1 bulan pasca operasi, diperlukan pemeriksaan tentang haid, periksa dalam
dan bila perlu dilakukan patensi tuba.
3.
3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun pasca operasi ádalah untuk mengetahui keadaan
haid, kemungkinan komplikasi, kemungkinan hamil, kesehatan badan, hubungan seks
dan perkawinan.
Tips bagi Anda
·
Sterilisasi masih menjadi kontroversi
dari segi agama. Sebagian besar ulama mengharamkan sterilisasi yang tidak
memiliki indikasi medis (kehamilan berikutnya membahayakan keselamatan ibu
dan bayinya). Bila Anda orang yang taat beragama, sebaiknya mendapatkan nasihat
ahli agama sebelum memutuskan untuk mengambil prosedur sterilisasi.
·
Konsultasikan dengan dokter Anda untuk
mendapatkan informasi menyeluruh tentang sterilisasi. Ginekolog Anda dapat
menjelaskan jenis operasi yang dilakukan dan risiko-risikonya.
·
Beberapa wanita menderita gangguan
emosi dan penyesalan setelah operasi, karena kehilangan peluang hamil lagi.
Sangat penting untuk merenungkan masak-masak sebelum membuat keputusan
akhir. Jangan memutuskan ketika Anda sedang kalut atau krisis, misalnya
setelah keguguran. Bicarakanlah dengan suami Anda tentang operasi
ini, konsekuensinya dan alternatif tindakan lain yang mungkin dapat
dipertimbangkan. Keputusan jelas terserah pada Anda, tetapi dalam kasus
sterilisasi itu adalah final. Rumah sakit biasanya mensyaratkan tanda
tangan suami bila Anda akan menjalani operasi ini, tetapi itu bukanlah
persyaratan yang wajib.
·
Bila Anda memiliki asuransi
kesehatan, baik melalui kantor atau membeli sendiri, polis
asuransi Anda mungkin menanggung biaya operasi sterilisasi yang
berindikasi medis. Tanyakan pada bagian personalia atau agen asuransi Anda
seberapa banyak yang ditanggung dan apa syarat-syaratnya.
No comments:
Post a Comment