INTEGRASI ILMU
Wahida yuliana
S2
KEBIDANAN STIKES ‘AISYIYAH
Pendidikan telah
mengantarkan ilmu dan teknologi ke arah kemajuan. Kemajuan tersebut membawa
kemudahan yang sangat berarti dalam kehidupan manusia dewasa ini. Namun
kemajuan teknologi sering kali membawa kecenderungan yang bersifat destruktif
bagi manusia dan kemanusiaan. Manusia membuat jurang yang menjebak manusia itu
sendiri, manusia telah kehilangan tujuan dan makna, jauh dari akar-akar
keagamannya, dikikis dari keterkaitan dan keterikatannya pada Yang Maha Memiliki
dan Menguasai Semesta Alam.
Dikotomi
ilmu ke dalam ilmu agama dan non agama, sebenarnya bukan hal yang baru. Islam
telah mempunyai tradisi dikotomi ini lebih dari seribu tahun silam. Tetapi dikotomi
tersebut tidak menimbulkan terlalu banyak problem dalam sistem pendidikan
Islam, hingga sistem pendidikan sekuler Barat diperkenalkan ke dunia Islam
melalui imperialisme. Sebuah upaya harus di lakukan untuk bisa
mengatasi problem dikotomi ilmu ini ke dalam sebuah sistem yang integratif dan
holistik. Melalui beberapa topik
bahasan ini, penulis mengajak kita memahami prinsip utama integrasi ilmu, basis
integrasi ilmu-ilmu agama dan umum serta integrasi objek-objek ilmu.
Penulis mengawali topik kedua dengan konsep tauhid sebagai prinsip utama
integrasi ilmu. Konsep tauhid diambil dari formula konvensional Islam “Laa
Ilaaha Illallaah” yang artinya
“tidak ada Tuhan melainkan Allah”. Para filosof Muslim memiliki tafsir yang
berbeda dengan para teolog dan fuqaha tentang formula tersebut. Perbedaannya
terletak pada lafadz “Ilaah”. Para teolog mengartikannya sebagai
“Tuhan yang wajib disembah”, sedangkan para sufi mengartikannya dengan “hakikat”
(realitas) sehingga bagi mereka bisa berarti “tidak ada realitas yang
betul-betul sejati kecuali Allah”. Meskipun begitu, pandangan yang lebih
relevan dengan topik sebenarnya adalah tafsir keesaan Tuhan menurut
Mullȃ Shadrȃ dalam apa yang biasanya
disebut sebagai ajaran”waẖdah al-wujȗd”.
Menurut penulis, dari
semua pandangan yang ada, konsep waẖdah al-wujȗd Mullȃ Shadrȃ-lah yang paling cocok untuk dijadikan
sebagai basis integrasi ilmu, terutama bagi status ontologis objek-objek
penelitiannya. Menurut penulis, segala wujud yang ada (dengan segala bentuk dan
karakternya) pada hakikatnya adalah satu dan sama. Yang membedakan yang satu
dari yang lainnya hanyalah gradasinya yang disebabkan oleh perbedaan dalam
esensiya.
Penulis menjelaskan konsep
“kesatuan wujud” telah mengintegrasikan berbagai wujud yang berbeda-beda ke
dalam kesatuan yang kukuh dan memberi segala tingkat wujud status ontologis
yang solid, sehingga tidak dapat dipisahkan dengan kategori riil dan tidak
riil, nyata atau ilusi. Dalam pandangan Mullȃ Shadrȃ semuanya adalah riil
karena bersumber dari realitas yang sama dan satu, yaitu Wujud Murni yang
keberadaan-Nya tidak perlu dibuktikan karena terbukti dengan sendirinya.
Topik berikutnya penulis
menjelaskan mengenai basis integrasi ilmu-ilmu agama dan umum. Dikotomi yang
begitu ketat antara ilmu-ilmu agama dan sekuler mengarah pada pemisahan yang
tidak bisa dipertemukan lagi antara keduanya bahkan cenderung pada penolakan
keabsahan masing-masing dengan menggunakan metode yang juga sangat berbeda
dengan sudut jenis dan prosedurnya. Menurut Al-Ghazali kedua jenis ilmu
tersebut yaitu ilm syar’iyah dan ghair syar’iyah.
Penulis menyatakan bahwa basis integrasi kedua macam ilmu tersebut yaitu baik
ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum sebenarnya sama-sama mengkaji “ayat-ayat
Allah”, hanya saja pertama mengkaji ayat-ayat yang bersifat qauliyyah dan
yang kedua mengkaji ayat-ayat yang bersifat kauniyyah.
![]() |
| 2014 STIKES AISYIYAH |
Penulis juga menjelaskan
bahwa sesuai dengan doktrin waẖdah al-wujȗd , maka wujud-wujud yang mengisi hierarki wujud atau rangkaian ini
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan tanpa menodai keutuhan itu
sendiri. Oleh karena itu, dalam sebuah sistem epistemiologi yang holistik semua
rangkaian wujud harus diperlakukan sama. Demikian juga status ontologis mereka
harus dipandang sama-sama kuat dan riil.
Penjelasan penulis sangatlah jelas. Dikotomi
yang terjadi dalam ilmu pengetahuan berakibat pada orang memahaminya, yaitu
sikap yang mengagungkan satu ilmu atas ilmu
yang lain tanpa menunjukkan apa seharusnya peran yang akan dimainkan oleh ilmu tersebut
bagi kemanusiaan.
+(Custom).jpg)