Nama : Sri Wahyuni, S.S.T
NIM : 201410102034
S 2 Kebidanan STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta
ALAT KONTRASEPSI IMPLAN/ SUSUK
1. Definisi
Salah satu
jenis alat konntrasepsi yang berupa susuk yang terbuat
sejenis karet silastik yang berisi hormon, dipasang pada lengan
atas.
2. Jenis
Dikenal 2 macm implan.
Yaitu :
a) Non biodegradable implan
Dengan ciri-ciri sebabagai
berikut
1) Norplan (6 ‘’kasul’’) , berisi
hormon levonogrestel, daya kerja 5 tahun.
2) Norplan -2 (2 batang), berisi
hormon levonogrestel, daya kerja 3 tahun
3) Satu batang, berisi hormon ST-
1435, daya kerja 2 tahun. Rencana siap pakai: Tahun 2000.
4) Satu batang, berisi hormon
3-keton desogesteri daya kerja 2,5-4 tahun.[hanafi,2004,hal 179]]
Sedangkan non biodegradable
implan dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
1) Norplan
Dipakai sejak tahun
1987, terdiri dari 6 ‘’kapsul’’ kosong silastik (karet silicon) yang diisi
dengan hormon levonor ges trel dan ujung-ujung kapsul ditutup
dengan Silastik adhesive. Tiap ‘’kapsul‘’ mempunyai
panjang 34 mm, diameter 2,4 mm, Berisi 36 mg
levonorgestrel, serta mempunyi cirri sangat
efektif dalam mencegah kehamilan untuk lima tahun.
Saat ini norplant yang paling banyak dipakai.[hanafi
hartanto hal 180]
2) Norplan -2
Dipakai sejak tahun
1987, terdiri dari dua batang silastic yang padat, dengan panjang tiap
batang 44 mm. Dengn masing-msing batang diisi dengan 70 mg levonorgestre
di dalam matriks batangnya. Cirri norplan-2 adalah sangat efektif
untuk mencegah kehamilan 3 tahun.
Pada kedua macam Implan
tersebut, Levonogestrel berfungsi melalui membran silastic dengan kecepatan
yang lambat dan konstan. Dalam 24 jam setelah Insersi, kadar hormondalam plasma
darah sudah cukup tinggi untuk mecegah ovulasi.
Pelepasan hormon tiap harinya
berkisar antara 50-85 mcg pada tahun pertama,
Kemudian menurun 30-35 mcg
perhari untuk lima tahun. [hanafi ,2004 hal 180]
b). Biodegradable Implant
Biodegradable implant
melepaskan progestin dari bahan pembawa / pengangkut yang secara perlahan-lahan
larut di dalam jaringan tubuh. Jadi bahan pembawanya sama sekali tidak
diperlukan untuk dikeluarkan lagi seperti pada norplant.
Dua macam implant
biodegradable sedang di uji coba saat ini pada sejumlah wanita, yaitu :
Carproronor, suatu “kapsul” polymer yang berisi levonorgestrel, pada awal
penelitian dan pengembanganya, carpronor berupa suatu “kapsul” biodegradable
yang mengandung levonogestrel yang dilarutkan dalam minyak ethyl-aleate
dengan diameter “kapsul” < 0,24 cm dan panjang “kapsul” yang teliti
terdiri dari 2 ukuran, yaitu :
1) 2,5 cm : berisi 16 mg
levonorgestrel, melepaskan 20 mcg hormonnya/hari.
2) 4 cm : berisi 25 mg
levonogestrel, melepaskan 30-50 mcg hormonnya/hari.
Penelitian pada kelinci dan
kera menunjukkan bahwa proteksi kontraseptif
Berlangsung paling sedikit 18
bulan, dan mungkin dapat berlangsung lebih lama.
Sekarang sedang dikembangkan 2
versi baru implant capronor yang dibiodegradable, yaitu :
1) Capronor -2, satu kapsul 4 cm terbuat dari polimer caprolactone yang diisi
Dengan 18 mg levonorgestrel.
Penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan diperlukan 2 kapsul dengan formula
ini.
2) -3, satu kapsul 4 cm terbuat
dari co-polimer (caprolactone dan trimethylene carbonate) yang diisi dengan 32
mg levonorgestrel. Ca. Polimer mengalami biodegradasi lebibih cepat
dibandingkan polimer tunggal. Kapsul capronor akan tetap intak selama periode
12 bulan dari pelepasan hormon levonorgestrelnya dan bila diinginkan kapsulnya
dapat dikeluarkan selama masa ini.
2) Narethindrone pellets
a) Pellets dibuat dari 10%
kolesterol murni dan 90% norechindrone (NET)
b) Setiap pellets panjang 8 mm berisi
35 mg NET, yang akan dilepaskan saat pellets dengan perlaha-lahan “melarut”.
c) Pellet berukuran kecil,
masing-masing sedikit lebih besar daripada butir besar.
d) ujicoba pendahuluan
menggunakan 4 dan 5 pellets.
e) Dosis harian NET dan
efektivitas kontrasepsi semakin bertambah dengan banyaknya jumlah pellet.
f) Sediaan
empat pellets tampaknya memberikan perlindungan yang besar terhadap kehamilan untuk sekurang-kurangnya 12
bulan.
g) Lebih dari 50% akseptor
pellets mengalami pola haid 1 reguler. Perdarahan inter menstrual atau
perdarahan bercak merupakan problin utama.
h) Terjadi rasa sakit
payudarah pada 4% akseptor.
i) Jumlah kecil dari kolesterol dalam masing-masing pellet kurang dari
2% kolesterol dalam satu butir telur ayam tidak mempunyai efek pada
kadar kolesterol darah akseptor.
j) Insersi pellets dilakukan pada bagian dalam lengan atas prosedur insersi
seperti pada capronor, dan dapat dipakai dengan inserter yang sama.
k) Daerah insersi disuntikkan
dengan anestesi lokal lalu dibuat insisi 3 mm. Pollets diletakkan
kira-kira 3 cm dibawah kulit. Tidak diperlukan penjahitan luka insisi, cukup
ditutup dengan verband saja.
[hanafi,2004 hal 180]
3. Cara kerja
a. Menekan ovulasi .
b. Perubahan lendir serviks menjadi kental dan sedikit .
c. Menghambat perkembangan siklis dari endometrium [hanafi 2004
hal 183].
4. Keuntungan
a. Cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan obat yang mengandung
estrogen.
b. Dapat digunakan untuk jangka waktu panjang 5 tahun dan bersifat reversibel.
c. Efek kontraseptif segera berakhir setelah implantnya
dikeluarkan.
d. Perdarahan terjadi lebih ringan, tidak menaikkan darah.
e. Resiko terjadinya kehamilan ektropik lebih kecil jika dibandingkan
dengan pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim.
5. kerugian
b. Lebih mahal.
c. Sering timbul perubahan pola haid.
d. Akseptor tidak dapat menghentikan implant sekehendaknya sendiri.
e. Beberapa wanita mungkin segan untuk menggunakannya karena kurang
mengenalnya.
6. Kontra
Indikasi
b. Penderita penyakit hati akut.
c. kangker payudarah .
d. kelainan jiwa.
e. Penyakit jantung, hipertensi, diabettes mellitus.
f. Penyakit trombo emboli.
7. Indikasi
a. Wanita-wanita yang ingin memakai kontrasepsi untuk jangka waktu
yang lama tetapi tidak tersedia menjalani kontap / menggunakan AKDR.
8. Efektivitas
a. Efektivitasnya tinggi, angka kegagalan norplant < 1 per 100 wanita per
tahun dalam tahun pertama.
b. Efektivitasnya norplant berkurang sedikit setelah sedikit setela 5 tahun,
dan pada Tahun ke 6 kira-kira 2,5-3% akseptor menjadi hamil.
9. Efek samping
dan penanganannya
a. Amenorrhea
Yakinkan ibu bahwa hal itu
adalah biasa, bukan merupakan efek samping yang serius.
Evaluasi untuk mengetahui
apakah ada kehamilan, terutama jika terjadi amenorrhea
setelah masa siklus haid yang teratur. Jika tidak ditemui masalah, jangan
berupaya untuk merangsang perdarahan dengan kontrasepsi oral kombinasi.
b. Perdarahan bercak (sepotting)
ringan
Spotting sering ditmukan
terutama pada tahun pertama penggunaan. Bila tidak ada maslah dank lien tidak
hamil, tidak diperlukan tindakan apapun. Bila klien mengeluh dapat diberikan
:
a. Kontrasepsi
oral kombinasi (30-50 ug EE) selama 1 siklus 1, atau
b. Ibuprofen
(hingga 800 mg 3 kali sehari x 5hari)
Terangkan pada klien bahwa
akan terjadi perdarahan setelah pil kombinasi habis.
Bila terjadi perdarahan lebih
banyak dari biasa, berikan 2 tablet pil kombinasi selama 3-7 hari dan
dilanjutkan dengan satu siklus pil kombinasi.
c. Pertambahan atau kehilangan
berat badan (perubahan nafsu makan)
Informasikan bahwa
kenaikan/penurunan BB sebanyak 1-2 Kg dapat saja terjadi.
Perhatikan diet klien bila
perubahan BB terlalu mencolok. Bila BB berlebihan, hentikan suntikan dan
anjurkan metode kontrasepsi yang lain.
d. Ekspulsi
Cabut kapsul yang ekspulsi, periksa apakah kapsul yang lain masih ditempat, dan apakah terdapat tanda-tanda
infeksi daerah insersi.
Bila tidak ada infeksi dan
kapsul lain masih berada pada ditempatnya, pasang kapsul
baru 1 buah pada tempat insersi yang berbeda.
Bila ada infeksi cabut seluruh kapsul yang ada dan pasang kapsul baru pada
lengan yang lain atau ganti cara.
e. Infeksi pda daerah insersi
Bila infeksi tanpa nanah
: bersihkan dengan sabun dan air atau antiseptik, berikan antibiotik yang sesuai untuk 7 hari. Implant jangan dilepas dan
minta klien control 1 minggu lagi. Bila tidak membaik, cabut implant dan pasang
yang baru di lengan yang lain atau ganti cara.
Bila ada abses :
bersihkan dengan antiseptic, insisi dan alirkan pus keluar, cabut
implant, lakukan perawatan luka, beri antibiotik oral 7 hari.[hanafi
,2004 hal 184]
10. Waktu pemasangan
a. Sewaktu haid
berlangsung
b. Setiap saat
asal diyakini klien tidak hamil
c. Bila
menyusui : 6 minggu-6 bulan pasca salin
d. Saat ganti
cara dari metode yang lain
e. Pasca
keguguran
a. Terhadap calon akseptor
dilakukan konseling dan KIE yang selengkap mungkin mengenal norplant ini
sehingga calon akseptor betul-betul mengerti dan menerimanya sebagai
cara kontrasepsi yang akan dipakai dan berikan iformed consent
untuk ditanda tangani oleh suami istri.
b. persiapan alat-alat yang
diperlukan :
1) sabun
antiseptic
2) kasa steril
3) cara
antiseptic (betadine)
4) kain steril
yang mempunyai lubang
5) Obat
anestesi lokal
6) Semprit dan
jarum sntik
7) Trokar no.
10
8) sepasang
sarung tangan steril
9) satu set
kapsul norplant (6 bulan)
10) Scalpel yang tajam.
1) Tenaga
kesehatan mencuci tangan dengan sabun
2) Daerah
tempat pemasangan (lengan kiri bagian atas) dicuci dengan sabun antiseptic
3) Calon
akseptor dibaringkan telentang di tempat tidur dan lengan kiri diletakkan pada
meja kecil disamping tempat tidur akseptor.
4) Gunakan hand
scoon seteril dengan benar.
5) Lengan kiri
pasien yang akan di pasang diolesi dengan cairan anstiseptic / betadin.
6) Daerah
tempat pemasangan norplant ditutup dengan kain steril yang berlubang.
7) Dilakukan
injeksi obat anestesi kira-kira 6-10 cm di atas lipatan siku.
8) setelah itu
dibuat insisi lebih kurang sepanjag 0,5 cm dengan skalpel yang tajam.
9) Trocard
dimasukkan melalui lubang insisi sehingga sampai pada jaringan bawah kulit.
10) Kemudian kapsul dimasukkan di
dalam trokar dan di dorong dengan plunger sampai kapsul terletak di bawah
kulitn .
11) Demikian dilakukan
berturut-turut dengan kapsul kedu sampai keenam, kapsul
di bawah kulit diletakkan demikian rupa sehingga
susunanya seperti kipas .
12) Setelah semua kapsul berad di
bawah kulit, trokar ditarik pelan-pelan keluar.
13) Kontrol luka apakah ada
perdarahan atau tidak.
14) Dekatkan luka dan beri plester
kemudian dibalut dengan perban untuk mencegah perdarahan dan agar tidak
terjadi haematom.
15) Nasehat pada akseptor agr luka
jangan basah, selama lebih kurang dari 3 hari dan datang kembali jika tejadi
keluhan-keluhan yang mengganggu .[hanafi ,2004 hal 187]
a. Indikasi :
1) Alat permintaan akseptor
(apabila menginginkan hamil lagi)
2) Timbulnya efek samping yang
sangat mengganggu dan tidak dapat diatasi dengan pengobatan biasa.
3) Sudah habis masa pakainya.
b. Teknik pencabutan implant
Mengeluarkan implant umumnya
lebih sulit dari pada insersi persoalan dapat timbulnya implant dipasang
terlalu dalam atau bila timbul jaringan fibrous di sekeliling implant.
Adapun cara untuk mengeluarkan
implant yang sudah terpasang pada kulit adalah :
1. Informed
consert
antiseptik.
3. Tentukan
lokasi dari implant dengan jari-jari tangan dan dapat diberi tanda/gambar
dengan tinta bila perlu.
4. Oleskan
tempat yang akan dilakukan pencabut dengan larutan antiseptik dan pasang
duk steril.
5. Suntikan
anesteri lokal dibawah implant, jangan menyuntikan anestesi diatas implant
karena pembengkakan kulit dapat menghalangi pandangan dari retak implantnya.
6. Buat satu
insisi 4 mm sedekat mungkin pada ujung-ujung implant, pada daerah alas kipas.
7. Keluarkan
implant pertama yang terletak paling depan ke insisi atau terletak paling
depan ke permukaan.
8. Sampai saat
ini dikenal 4 cara pencabutan implant
1) cara POP – OUT (Darney, Klaise dan Walker), merupakan teknik
pilihan bila memungkinkan karena tidak traumatis, sekalipun tidak selalu
mudah untuk mengerjakannya. Dorong ujung proksimal “kapsul” (arah bahu) ke arah
diistal dengan ibu jari sehingga mendekati lubang insisi, sementara
jari telunjuk menahan bagian tengah “kapsul”, sehingga ujung distal kapsul
menekan kulit.
2) Cara standard, jepit ujung distal “kapsul” dengan klem mosquito,
sampai kira-kira 0,5 -1 cm dari ujung klemnya, masuk dibawah kulit
melalui lubang insisi. Putar pegangan klem pada posisi 180 di sekitar sumbu
utamanya mengarah ke bagu akseptor. Bersihkan jaringan-jaringan yang menempel
di sekeliling klem dan kapsul dengan skalpet atau kasa steril sampai “kapsul”
terlihat dengan jelas. Tangkap ujung “kapsul” yang sudah terlihat dengan klem
orile lepaskan klem mosquito dan
keluarkan “kapsul” dengan klem orile.
3) Cara “U”, Teknik ini dikembangkan oleh Dr Untung prawiroharjo dari
semarang dibuat insisi memanjang selebar 4 mm kira-kira 5 mm proksimal dari
ujung distal “kapsul” di antara kapsul ke-3 dan kapsul ke-4.
“kapsul” yang akan dicabut difiksasi dengan meletakkan jari telunjuk tangan
kiri sejajar di samping “kapsul”.
“kapsul”
dipegang dengan klem (Norplant holding forceps) kurang lebih 5 mm dari
ujung distalnya. Kemudian klem diputar ke arah pangkal lengan atas / bahu
akseptor sehingga “kapsul” terlihat di bawah lubang insisi dan dapat
dibersihkan dari jaringan-jaringan yang menyelubunginya dengan memakai
skalpel untuk seterusnya dicabut keluar.
4) Cara Tusuk “Ma”, Dikembangkan oleh Dr. IBG Manuaba dari
denpasar memakai alat bantu kawat atau jari roda sepeda, satu ujung di
lengkungan sepanjang 0,5 – 0,75 cm dengan sudut 90 dan diperkecil serta
diruncingkan, sedangkan ujung yang lain dilengkungkan dalam satu bidang dengan lengkungan runcing tadi dan
dipakai untuk pegangan operator setelah “kapsul” dijepit dengan pinset
atau klem arteri, jaringan ikat dibersihkan dengan pisau sampai “kapsul” tampak
putih. Kemudian alat tusuk “ma” ditusukkan pada “kapsul” serta terus
diikat keluar. Berikan anestensi lagi
bila diperlukan, untuk mengeluarkan implant yang lain.
9. Tutup dan
bungkus luka insisi seperti pada saat insersi bila akseptor ingin dipasang implant
yang lain. Upaya pencabutan keenam “kapsul” norplant dibatasi sampai waktu 45
menit. Bila waktu tersebut tidak semua “kapsul” berhasil dikeluarkan, maka
prosedur pencabutan dihentikan dan upaya pencabutan kembali sisa “kapsul” yang
masih tertinggal diulangi kira-kira 3-4 minggu kemudian. Hal ini untuk
mengurangi terjadinya infeksi dan rasa nyeri. Di samping itu mecabut sisa
“kapsul” norplant akan lebih mudah bila lengan
akseptor telah sembuh dari trauma jaringan upaya pencabutan yang lalu. Setelah
selesai dengan pencabutan keenam “kapsul” norplant rendam setelah alat-alat
yang sudah dipakai dalam cairan 0,5% untuk dekontaminasi alat-alat.
c. Pemeliharaan Alat-alat Untuk Insersi dan Pengangkatan
Implant
1) Troicard harus dicuci dengan air hangat dan larutan
antiseptik segera setelah insersi, kemudian didesinfeksi sebelum pemakaian.
2) Desinfeksi dapat dilakukan dengan :
a). Autoclave selama 20 menit.
b). Direbus dalam air mendidih selama 5-10 menit.
c). Sterilisasi dingin dengan larutan germiside untuk sedikitnya 1
jam
3) Desinfeksi dengan autoclave merupakan cairan paling efektif.
4) Ketiga cara desinfeksi tersebut akan membunuh HIL yaitu penyebab
AIDS
5) Tetapi merebus dalam air panas selama 5-10 menit atau sterilisasi
dingin, tidak akan membunuh virus hepatitis B pada daerah endemik hepatitis,
alat-alat harus direbus dalam air selama 15-30 menit.
6) Ujung trocar harus dipriksa setelah melakukan 10 insersi, dan bila
diperlukan dapat diasah kembali dengan pemeliharaan yang baik. Trocar dapat
dipakai untuk melakukan kurang lebih 50 insersi.hanafi ,2004hal 189]
DAFTAR PUSTAKA
Hanifah, Winkjosastro. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: yayasan
bina pustaka sarwono prawirohardjo.
Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media
Aesculapius.
Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta: yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo



No comments:
Post a Comment