Saturday, 31 May 2014

WAHIDA YULIANA



INTEGRASI ILMU
        Wahida yuliana
  S2 KEBIDANAN STIKES ‘AISYIYAH
     

Pendidikan telah mengantarkan ilmu dan teknologi ke arah kemajuan. Kemajuan tersebut membawa kemudahan yang sangat berarti dalam kehidupan manusia dewasa ini. Namun kemajuan teknologi sering kali membawa kecenderungan yang bersifat destruktif bagi manusia dan kemanusiaan. Manusia membuat jurang yang menjebak manusia itu sendiri, manusia telah kehilangan tujuan dan makna, jauh dari akar-akar keagamannya, dikikis dari keterkaitan dan keterikatannya pada Yang Maha Memiliki dan Menguasai Semesta Alam.
Dikotomi ilmu ke dalam ilmu agama dan non agama, sebenarnya bukan hal yang baru. Islam telah mempunyai tradisi dikotomi ini lebih dari seribu tahun silam. Tetapi dikotomi tersebut tidak menimbulkan terlalu banyak problem dalam sistem pendidikan Islam, hingga sistem pendidikan sekuler Barat diperkenalkan ke dunia Islam melalui imperialisme. Sebuah upaya harus di lakukan untuk bisa mengatasi problem dikotomi ilmu ini ke dalam sebuah sistem yang integratif dan holistik. Melalui beberapa topik bahasan ini, penulis mengajak kita memahami prinsip utama integrasi ilmu, basis integrasi ilmu-ilmu agama dan umum serta integrasi objek-objek ilmu.
Penulis mengawali topik kedua dengan konsep tauhid sebagai prinsip utama integrasi ilmu. Konsep tauhid diambil dari formula konvensional Islam “Laa Ilaaha Illallaah” yang artinya “tidak ada Tuhan melainkan Allah”. Para filosof Muslim memiliki tafsir yang berbeda dengan para teolog dan fuqaha tentang formula tersebut. Perbedaannya terletak pada lafadz “Ilaah”. Para teolog mengartikannya sebagai “Tuhan yang wajib disembah”, sedangkan para sufi mengartikannya dengan “hakikat” (realitas) sehingga bagi mereka bisa berarti “tidak ada realitas yang betul-betul sejati kecuali Allah”. Meskipun begitu, pandangan yang lebih relevan dengan topik sebenarnya adalah tafsir keesaan Tuhan menurut Mullȃ Shadrȃ dalam apa yang biasanya disebut sebagai ajaran”wadah al-wujȗd”.
Menurut penulis, dari semua pandangan yang ada, konsep wadah al-wujȗd Mullȃ Shadrȃ-lah yang paling cocok untuk dijadikan sebagai basis integrasi ilmu, terutama bagi status ontologis objek-objek penelitiannya. Menurut penulis, segala wujud yang ada (dengan segala bentuk dan karakternya) pada hakikatnya adalah satu dan sama. Yang membedakan yang satu dari yang lainnya hanyalah gradasinya yang disebabkan oleh perbedaan dalam esensiya.
Penulis menjelaskan konsep “kesatuan wujud” telah mengintegrasikan berbagai wujud yang berbeda-beda ke dalam kesatuan yang kukuh dan memberi segala tingkat wujud status ontologis yang solid, sehingga tidak dapat dipisahkan dengan kategori riil dan tidak riil, nyata atau ilusi. Dalam pandangan Mullȃ Shadrȃ semuanya adalah riil karena bersumber dari realitas yang sama dan satu, yaitu Wujud Murni yang keberadaan-Nya tidak perlu dibuktikan karena terbukti dengan sendirinya.
Topik berikutnya penulis menjelaskan mengenai basis integrasi ilmu-ilmu agama dan umum. Dikotomi yang begitu ketat antara ilmu-ilmu agama dan sekuler mengarah pada pemisahan yang tidak bisa dipertemukan lagi antara keduanya bahkan cenderung pada penolakan keabsahan masing-masing dengan menggunakan metode yang juga sangat berbeda dengan sudut jenis dan prosedurnya. Menurut Al-Ghazali kedua jenis ilmu tersebut yaitu ilm syar’iyah dan ghair syar’iyah. Penulis menyatakan bahwa basis integrasi kedua macam ilmu tersebut yaitu baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum sebenarnya sama-sama mengkaji “ayat-ayat Allah”, hanya saja pertama mengkaji ayat-ayat yang bersifat qauliyyah dan yang kedua mengkaji ayat-ayat yang bersifat kauniyyah.
2014 STIKES AISYIYAH
Penulis juga menjelaskan bahwa sesuai dengan doktrin wadah al-wujȗd , maka wujud-wujud yang mengisi hierarki wujud atau rangkaian ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan tanpa menodai keutuhan itu sendiri. Oleh karena itu, dalam sebuah sistem epistemiologi yang holistik semua rangkaian wujud harus diperlakukan sama. Demikian juga status ontologis mereka harus dipandang sama-sama kuat dan riil.
Penjelasan penulis sangatlah jelas. Dikotomi yang terjadi dalam ilmu pengetahuan berakibat pada orang memahaminya, yaitu sikap yang mengagungkan satu ilmu atas ilmu yang lain tanpa menunjukkan apa seharusnya peran yang akan dimainkan oleh ilmu tersebut bagi kemanusiaan.

No comments:

Post a Comment