tauhid: prinsip utama
integrasi ilmu
By: Adinda Putri Sari Dewi
Konsep Tauhid diambil dari kata “La Iiaha iIIallah yang
berarti tidak ada tuhan melainkan Allah”. Tauhid ini juga telah menjadi prinsip
paling dasar dari ajaran islam dan dalam kaitanya dengan concern tentang
integrasi ilmu sehingga ia juga telah menjadi asas pemersatu atau dasar
integrasi ilmu pengetahuan manusia.
Dalam perkembangannya, kata “La Ilaha
illaallah” telah dipahami dan dirumuskan secara beragam oleh para teolog,
fuqaha, sufi dan filisof. Para teolog dan fuqaha lebih mengartikan tauhid
sebagai ”tidak ada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah”. Namun sejalan
dengan pendekatan filosofis, disini lebih dibahas tauhid dalam perspektif
filosofis.
Adanya konsep tauhid sudah bisa menjadi bantahan terhadap
paham yang tidak mengakui adanya tuhan. Sebagai sang kebenaran tentu tidak bisa
dicapai melalui pengamatan indrawi semata, tetapi bisa dirasakan melalui
penalaran (akal) karena kemampuannya menangkap hal-hal yang bersifat abstrak
atau bisa juga melalui intuisi atau hati yang perolehan tertingginya adalah
wahyu.
Dari konsep tauhid inilah, sekaligus menjadi basis integrasi
ilmu. Keyakinan tentang keesaan tuhan, yang dalam penafsiran para filosofis
sebagai wadah al wujud, yang berimplikasi akan keyakinan bahwa pemilik sejati
alam ini adalah Allah semata. Berbeda dengan para teolog dan fuqaha mempunyai
tafsiran sendiri tentang keesaan tuhan, bahwa tuhan itu harus lah simple, tidak
boleh tersusun oleh apapun kecuali zat esensinya sendiri.
Meskipun begitu, pandangan yang lebih relevan dengan topik
diatas sebenarnya adalah tafsir keesaan tuhan
menurut Mulla Sadra dalam apa yang biasanya disebut sebagai ajaran
“wahdad al wujud” tentu saja ini diadopsi dari kaum sufi. Tetapi dari semua
pandangan yang ada, konsep wahdah al wujud mulla sadralah yang menurut saya,
paling cocok untuk dijadikan sebagai basis integrasi ilmu, terutama bagi status
ontologis objek-objek penelitiannnya.
No comments:
Post a Comment