Saturday, 31 May 2014

Elisa Christiana

PERUBAHAN FISIOLOGIS KALA I PERSALINAN




1)      Endokrin
Sistem endokrin aktif saat proses terjadinya persalinan menyebabkan kadar estrogen, prostaglandin dan oksitosin meningkat serta terjadinya penurunan progesteron. Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron menyebabkan oksitosin yang dikeluarkan oleh hipofise parst posterior dapat menimbulkan kontraksi rahim (his). Dalam persalinan frekuensi kontraksi semakin sering. Oksitosin diduga bekerja sama melalui prostaglandin yang makin meningkat dengan semakin tuanya kehamilan yang berpengaruh terhadap terjadinya kontraksi rahim (his).
Kontraksi uterus selama kala I, dibagi menjadi 2 fase, yaitu:
a)    Fase laten
·         Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap (± 2 x 10') selama 20".
b)    Fase aktif
·         Frekuensi dan lama kontraksi uterus meningkat secara bertahap.
·         Kontraksi dianggap adekuat jika terjadi ± 3 x 10' selama ≥ 40".

2)            Tekanan darah (TD)
a.     TD meningkat selama_kontraksi (sistolik rata-rata naik 15 [10-20] mmHg dan kenaikan diastolik dengan rata-rata 5-10 mmHg). Antara kontraksi, TD kembali normal pada level sebelum persalinan.
b.     Ada beberapa faktor yang mengubah tekanan darah ibu, yaitu:
a)     Aliran darah yang menurun pada arteri uterus akibat kontraksi, diarahkan kembali ke pembuluh darah perifer.
b)    Timbul tahanan perifer, tekanan darah meningkat dan frekuensi denyut nadi melambat.
c)    Rasa sakit, takut dan cemas, akan meningkatkan TD.
Dalam hal ini, perlu dilakukan pemeriksaan lainnya untuk mengesampingkan preeklampsia. Oleh karena itu, diperlukan asuhan yang mendukung untuk dapat menimbulkan ibu rileks atau santai. Posisi tidur terlentang selama bersalin akan menyebabkan penekanan uterus terhadap pembuluh darah besar aorta) yang akan menyebabkan sirkulasi darah baik untuk ibu maupun janin akan terganggu. Ibu dapat mengalami hipotensi dan janin akan mengalami asfiksia. Dengan mengubah posisi tubuh dari terlentang ke posisi miring, perubahan tekanan darah selama kontraksi dapat dihindari. Untuk memastikan tekanan darah yang sebenarnya, pastikan mengeceknya dengan baik pada interval diantara kontraksi memberi data yang lebih akurat, dan lebih baik dengan posisi ibu berbaring miring. Akan tetapi, baik tekanan sistolik maupun diastolik akan tetap sedikit meningkat diantara kontraksi. Observasi tekanan darah dilakukan setiap 4 jam, kecuali ada indikasi (pre eklampsia, riwayat hipertensi). Wanita yang memang memiliki resiko hipertensi kini resikonya meningkat untuk mengalami komplikasi, seperti perdarahan otak.

3)            Pernafasan (respiratory rate)
a.     Terjadi sedikit peningkatan laju pernafasan dianggap normal.
b.     Hiperventilasi yang lama dianggap tidak normal dan bisa menyebabkan alkalosis respiratorik (pH meningkat).
Sedikit peningkatan frekuensi pernafasan masih normal selama persalinan dan mencerminkan peningkatan metabolisme yang terjadi. Sulit untuk memperoleh temuan yang akurat dalam hal pernafasan karena frekuensi dan irama pernafasan dipengaruhi oleh rasa senang, nyeri, rasa takut dan penggunaan teknik pernafasan. Amati pernafasan wanita dan bantu ia mengendalikannya untuk menghindari hiperventilasi yang panjang, ditandai oleh rasa kesemutan pada ektremitas dan perasaan pusing.

4)            Suhu tubuh
Meningkat selama persalinan terutama selama dan segera setelah persalinan. Peningkatan ini jangan melebihi (0,5 -1) °C. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan metabolisme, maka suhu tubuh agak sedikit meningkat selama persalinan terutama selama dan segera setelah persalinan. Namun, bila persalinan berlangsung lebih lama, peningkatan suhu dapat mengidentifikasikan dehidrasi dan parameter lain harus di cek. Begitu pula pada kasus ketuban pecah dini, peningkatan suhu dapat mengindikasikan infeksi dan tidak dapat dianggap normal pada keadaan ini. Evaluasi suhu tubuh dilakukan setiap 2 jam atau kurang dari 2 jam, jika ada indikasi (KPD).

5)            Jantung (cardiovascular)
Pada setiap kontraksi, 400 ml darah dikeluarkan dari uterus dan masuk ke dalam sistem vaskuler ibu. Hal ini akan meningkatkan curah jantung sekitar 10% sampai 15% pada tahap pertama persalinan dan sekitar 30% sampai 50% pada tahap kedua persalinan.
Ibu harus diberitahu bahwa ia tidak boleh melakukan manuver valsava (menahan napas dan menegakkan otot abdomen) untuk mengejan selama tahap kedua persalinan. Aktivitas ini meningkatkan tekanan intratoraks, mengurangi aliran balik vena dan meningkatkan tekanan vena. Curah jantung dan tekanan darah meningkat, sedangkan nadi melambat untuk sementara. Selama ibu melakukan manuver valsava, janin dapat mengalami hipoksia. Proses ini pulih kembali saat wanita menarik napas.


6)            Ginjal (renal)
a.     Poliuria
Poliuria sering terjadi selama persalinan, mungkin disebabkan oleh peningkatan kardiak output, peningkatan filtrasi dalam glomerulus, dan peningkatan aliran plasma ginjal.
b.     Proteinuria yang sedikit dianggap biasa
Proteinuria (+1) dapat dikatakan normal dan hasil ini merupakan respons rusaknya jaringan otot akibat kerja fisik selama persalinan. Proteinuria yang sedikit dianggap normal dalam persalinan. Akan tetapi protein urin (+2), merupakan hal yang tidak wajar, keadaan ini lebih sering pada ibu primipara, anemia, persalinan lama atau pada kasus pre eklampsia.
Selama persalinan wanita dapat mengalami kesulitan untuk berkemih secara spontan karena berbagai hal, yaitu:
a.     edema jaringan akibat tekanan bagian presentasi
b.     Rasa tidak nyaman
c.     Sedasi
d.     Rasa malu
e.     Ibu dengan posisi persalinan terlentang
Kandung kemih harus sering dievaluasi setiap 2 jam untuk mengetahui adanya distensi, untuk mencegah:
a)    Obstruksi persalinan akibat kandung kemih penuh, yang akan mencegah penurunan bagian presentasi janin.
b)    Trauma pada kandung kemih akibat penekanan lama, yang akan menyebabkan hipotonia kandung kemih dan retensi urin selama periode pasca persalinan awal.

7)            Gastro intestinal (GI)
a.     Motilitas lambung dan absorpsi makanan padat berkurang.
b.     Pengurangan getah lambung berkurang.
c.     Pengosongan lambung menjadi sangat lambat
Motilitas lambung dan absorbsi makanan padat secara substansial berkurang banyak sekali selama persalinan. Apabila kondisi ini diperburuk oleh penurunan lebih lanjut sekresi asam lambung selama persalinan, maka saluran cerna bekerja dengan lambat sehingga waktu pengosongan lambung menjadi lebih lama.
Makanan yang dikonsumsi selama periode menjelang persalinan atau fase prodromal atau fase laten persalinan cenderung akan tetap berada dalam lambung selama persalinan. Lambung yang penuh dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan penderitaan umum selama masa transisi. Oleh karena itu, wanita harus dianjurkan untuk tidak makan dalam porsi besar atau minum berlebihan. Akan tetapi makan dan minum sedikit demi sedikit berguna mempertahankan energi dan hidrasi. Perubahan pada saluran cerna kemungkinan timbul sebagai respons terhadap salah satu atau kombinasi faktor-faktor berikut: kontraksi uterus, nyeri, rasa takut dan khawatir atau cemas, obat atau komplikasi.

8)            Metabolisme
Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob meningkat secara berangsur. Ditandai dengan peningkatan suhu, nadi, kardiak output, pernafasan dan cairan yang hilang. Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob akan meningkat secara berangsur disebabkan karena kecemasan, dan aktivitas otot skeletal. Akibat aktivitas otot skeletal yang meningkat, seringkali ibu bersalin mengalami nyeri pinggang, sendi dan kram kaki.

9)            Segmen atas dan bawah rahim
Uterus terdiri atas dua bagian yaitu segmen atas rahim yang dibentuk oleh corpus uteri dan segmen bawah rahim yang dibentuk oleh istmus uteri. Hal ini berhubungan dengan kontraksi rahim yang mempunyai sifat khas, antara lain:
a.     Setelah kontraksi maka otot tersebut tidak berelaksasi kembali ke keadaan sebelum kontraksi tapi menjadi sedikit lebih pendek walaupun tonusnya seperti sebelum kontraksi (Retraksi).
b.     Kontraksi tidak sama kuatnya, tapi paling kuat di daerah fundus uteri dan berangsur-angsur berkurang ke bawah dan paling lemah pada segmen bawah rahim (SBR).
c.     Sebagian dari isi rahim keluar dari segmen atas rahim (SAR) dan diterima oleh segmen bawah rahim (SBR).
d.     Jadi, segmen atas makin lama makin mengecil sedangkan segmen bawah makin diregang dan makin tipis dan isi rahim sedikit demi sedikit pindah ke segmen bawah.
e.     Karena segmen atas makin tebal dan segmen bawah makin tipis, maka batas antara segmen atas dan bawah menjadi jelas  (lingkaran retraksi yang fisiologis).
f.       Kalau segmen bawah sangat diregang maka lingkaran retraksi lebih jelas dan naik mendekat pusat (lingkaran retraksi yang patologis atau lingkaran bandle).
  
10)        Bentuk rahim
Pada tiap kontraksi sumbu panjang rahim bertambah panjang sedangkan ukuran melintang maupun muka belakang berkurang. Hal ini terjadi karena ukuran melintang berkurang, artinya tulang punggung menjadi lebih lurus dan dengan demikian kutup atas janin tertekan pada fundus sedangkan kutub bawah ditekan ke dalam PAP.
11)        Serviks
a.     Agar bayi dapat keluar dari rahim maka perlu terjadi pembukaan dari serviks.
b.     Pembukaan dari serviks ini biasanya didahului oleh pendataran dari serviks.
c.     Pendataran serviks adalah : pendekatan dari kanalis servikalis berupa sebuah saluran yang panjangnya 1-2 cm, menjadi satu lubang saja dengan pinggir yang tipis.
d.     Pembukaan dari serviks adalah pembesaran dari OUE yang tadinya berupa suatu lubang dengan diameter beberapa millimeter menjadi lubang yang dapat dilalui janin kira-kira 10 cm diameternya.
e.     Perubahan serviks selama kala I, dibagi menjadi 2 fase, yaitu:
a)    Fase laten
·         Berlangsung hingga serviks membuka 3 cm.
·         Pada umumnya, fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam.
b)    Fase aktif
·         Dari pembukaan (4 – 10) cm. Akan terjadi kecepatan rata-rata 1cm per jam (nullipara/ primipara) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm (multipara).
·         Terjadi penurunan bagian terbawah janin.

12)        Vagina dan dasar panggul
a.     Dalam kala I ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina yang sejak kehamilan mengalami perubahan sedemikian rupa, sehingga dapat dilalui oleh janin.
b.     Setelah ketuban pecah, segala perubahan terutama pada dasar panggul diregang menjadi saluran dengan dinding yang tipis.
c.     Waktu kepala sampai di vulva, lubang vulva mengahadap ke depan atas. Dari luar peregangan oleh bagian depan nampak pada perineum yang menonjol dan menjadi tipis sedangkan anus menjadi terbuka.

13)  Hematologi
Hemoglobin meningkat sampai 1,2 gr/100 ml, selama persalinan dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan sehari setelah pasca persalinan kecuali ada perdarahan post partum.

 Ø  REFERENSI:
BUKU  WAJIB (BW):
1)      Varney, H; Jones; Bartlett.  (1997) Varney’s Midwifery. New  York, N. Y.
2)      Saifuddin, A. B. (2002) Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. YBP-SP
3)      Pusdiknakes. (2001) Buku III Asuhan Kebidanan Pada Ibu Intrapartum. Jakarta. WHO; JHPIEGO.
BUKU ANJURAN (BA):
1)      Dep Kes RI. (2003). Dasar-dasar Asuhan Kebidanan. Jakarta. Direktorat Keperawatan dan Keteknisan Medik.
2)      Manuaba, I. B. G. (1998) Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta. EGC
3)      Saifuddin, A. B. (2004) Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. YBP-SP.
4)      Sufyan, M. (2001) Bidan Menyongsong Masa Depan. Jakarta. PP IBI.
5)      JNPK. (2007) Buku Asuhan Persalinan Normal Edisi 3. Jakarta. JNPK-KR; POGI.


No comments:

Post a Comment