PERUBAHAN
FISIOLOGIS KALA I PERSALINAN
1)
Endokrin
Sistem endokrin aktif saat proses
terjadinya persalinan menyebabkan kadar estrogen, prostaglandin dan oksitosin
meningkat serta terjadinya penurunan progesteron. Perubahan keseimbangan
estrogen dan progesteron menyebabkan oksitosin yang dikeluarkan oleh hipofise
parst posterior dapat menimbulkan kontraksi rahim (his). Dalam persalinan
frekuensi kontraksi semakin sering. Oksitosin diduga bekerja sama melalui
prostaglandin yang makin meningkat dengan semakin tuanya kehamilan yang
berpengaruh terhadap terjadinya kontraksi rahim (his).
Kontraksi uterus selama kala I, dibagi menjadi 2 fase,
yaitu:
a)
Fase
laten
·
Dimulai
sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara
bertahap (± 2 x 10') selama 20".
b)
Fase
aktif
·
Frekuensi
dan lama kontraksi uterus meningkat secara bertahap.
·
Kontraksi
dianggap adekuat jika terjadi ± 3 x 10' selama ≥ 40".
2)
Tekanan
darah (TD)
a.
TD
meningkat selama_kontraksi (sistolik rata-rata naik 15 [10-20] mmHg dan
kenaikan diastolik dengan rata-rata 5-10 mmHg). Antara kontraksi, TD kembali
normal pada level sebelum persalinan.
b.
Ada
beberapa faktor yang mengubah tekanan darah ibu, yaitu:
a)
Aliran darah yang menurun pada arteri uterus
akibat kontraksi, diarahkan kembali ke pembuluh darah perifer.
b)
Timbul
tahanan perifer, tekanan darah meningkat dan frekuensi denyut nadi melambat.
c)
Rasa
sakit, takut dan cemas, akan meningkatkan TD.
Dalam hal ini, perlu
dilakukan pemeriksaan lainnya untuk mengesampingkan preeklampsia. Oleh karena
itu, diperlukan asuhan yang mendukung untuk dapat menimbulkan ibu rileks atau
santai. Posisi tidur terlentang selama bersalin akan menyebabkan penekanan
uterus terhadap pembuluh darah besar aorta) yang akan menyebabkan sirkulasi
darah baik untuk ibu maupun janin akan terganggu. Ibu dapat mengalami hipotensi
dan janin akan mengalami asfiksia. Dengan mengubah posisi tubuh dari terlentang
ke posisi miring, perubahan tekanan darah selama kontraksi dapat dihindari.
Untuk memastikan tekanan darah yang sebenarnya, pastikan mengeceknya dengan
baik pada interval diantara kontraksi memberi data yang lebih akurat, dan lebih
baik dengan posisi ibu berbaring miring. Akan tetapi, baik tekanan sistolik
maupun diastolik akan tetap sedikit meningkat diantara kontraksi. Observasi
tekanan darah dilakukan setiap 4 jam, kecuali ada indikasi (pre eklampsia,
riwayat hipertensi). Wanita yang memang memiliki resiko hipertensi kini
resikonya meningkat untuk mengalami komplikasi, seperti perdarahan otak.
3)
Pernafasan
(respiratory rate)
a.
Terjadi sedikit
peningkatan laju pernafasan dianggap normal.
b.
Hiperventilasi yang lama
dianggap tidak normal dan bisa menyebabkan alkalosis respiratorik (pH meningkat).
Sedikit peningkatan frekuensi pernafasan masih normal
selama persalinan dan mencerminkan peningkatan metabolisme yang terjadi. Sulit
untuk memperoleh temuan yang akurat dalam hal pernafasan karena frekuensi dan
irama pernafasan dipengaruhi oleh rasa senang, nyeri, rasa takut dan penggunaan
teknik pernafasan. Amati pernafasan wanita dan bantu ia mengendalikannya untuk
menghindari hiperventilasi yang panjang, ditandai oleh rasa kesemutan pada
ektremitas dan perasaan pusing.
4)
Suhu
tubuh
Meningkat selama persalinan
terutama selama dan segera setelah persalinan. Peningkatan ini jangan melebihi
(0,5 -1) °C. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan metabolisme, maka
suhu tubuh agak sedikit meningkat selama persalinan terutama selama dan segera
setelah persalinan. Namun, bila persalinan berlangsung lebih lama, peningkatan
suhu dapat mengidentifikasikan dehidrasi dan parameter lain harus di cek.
Begitu pula pada kasus ketuban pecah dini, peningkatan suhu dapat
mengindikasikan infeksi dan tidak dapat dianggap normal pada keadaan ini.
Evaluasi suhu tubuh dilakukan setiap 2 jam atau kurang dari 2 jam, jika ada
indikasi (KPD).
5)
Jantung
(cardiovascular)
Pada setiap kontraksi, 400
ml darah dikeluarkan dari uterus dan masuk ke dalam sistem vaskuler ibu. Hal
ini akan meningkatkan curah jantung sekitar 10% sampai 15% pada tahap pertama
persalinan dan sekitar 30% sampai 50% pada tahap kedua persalinan.
Ibu harus diberitahu bahwa
ia tidak boleh melakukan manuver valsava (menahan napas dan menegakkan otot
abdomen) untuk mengejan selama tahap kedua persalinan. Aktivitas ini meningkatkan
tekanan intratoraks, mengurangi aliran balik vena dan meningkatkan tekanan
vena. Curah jantung dan tekanan darah meningkat, sedangkan nadi melambat untuk
sementara. Selama ibu melakukan manuver valsava, janin dapat mengalami
hipoksia. Proses ini pulih kembali saat wanita menarik napas.
6)
Ginjal
(renal)
a. Poliuria
Poliuria sering terjadi
selama persalinan, mungkin disebabkan oleh peningkatan kardiak output,
peningkatan filtrasi dalam glomerulus, dan peningkatan aliran plasma ginjal.
b. Proteinuria
yang sedikit dianggap biasa
Proteinuria (+1) dapat
dikatakan normal dan hasil ini merupakan respons rusaknya jaringan otot akibat
kerja fisik selama persalinan. Proteinuria yang sedikit dianggap normal dalam
persalinan. Akan tetapi protein urin (+2), merupakan hal yang tidak wajar,
keadaan ini lebih sering pada ibu primipara, anemia, persalinan lama atau pada
kasus pre eklampsia.
Selama persalinan wanita
dapat mengalami kesulitan untuk berkemih secara spontan karena berbagai hal,
yaitu:
a.
edema
jaringan akibat tekanan bagian presentasi
b.
Rasa
tidak nyaman
c.
Sedasi
d.
Rasa malu
e.
Ibu
dengan posisi persalinan terlentang
Kandung kemih harus sering dievaluasi setiap 2 jam
untuk mengetahui adanya distensi, untuk mencegah:
a)
Obstruksi
persalinan akibat kandung kemih penuh, yang akan mencegah penurunan bagian
presentasi janin.
b)
Trauma
pada kandung kemih akibat penekanan lama, yang akan menyebabkan hipotonia
kandung kemih dan retensi urin selama periode pasca persalinan awal.
7)
Gastro
intestinal (GI)
a.
Motilitas lambung dan
absorpsi makanan padat berkurang.
b.
Pengurangan getah lambung
berkurang.
c.
Pengosongan lambung
menjadi sangat lambat
Motilitas lambung dan
absorbsi makanan padat secara substansial berkurang banyak sekali selama
persalinan. Apabila kondisi ini diperburuk oleh penurunan lebih lanjut sekresi
asam lambung selama persalinan, maka saluran cerna bekerja dengan lambat
sehingga waktu pengosongan lambung menjadi lebih lama.
Makanan yang dikonsumsi
selama periode menjelang persalinan atau fase prodromal atau fase laten
persalinan cenderung akan tetap berada dalam lambung selama persalinan. Lambung
yang penuh dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan penderitaan umum selama masa
transisi. Oleh karena itu, wanita harus dianjurkan untuk tidak makan dalam
porsi besar atau minum berlebihan. Akan tetapi makan dan minum sedikit demi
sedikit berguna mempertahankan energi dan hidrasi. Perubahan pada saluran cerna
kemungkinan timbul sebagai respons terhadap salah satu atau kombinasi faktor-faktor
berikut: kontraksi uterus, nyeri, rasa takut dan khawatir atau cemas, obat atau
komplikasi.
8)
Metabolisme
Metabolisme karbohidrat
aerob dan anaerob meningkat secara berangsur. Ditandai dengan peningkatan suhu,
nadi, kardiak output, pernafasan dan cairan yang hilang. Metabolisme
karbohidrat aerob dan anaerob akan meningkat secara berangsur disebabkan karena
kecemasan, dan aktivitas otot skeletal. Akibat aktivitas otot skeletal yang
meningkat, seringkali ibu bersalin mengalami nyeri pinggang, sendi dan kram
kaki.
9)
Segmen
atas dan bawah rahim
Uterus terdiri atas dua
bagian yaitu segmen atas rahim yang dibentuk oleh corpus uteri dan segmen bawah
rahim yang dibentuk oleh istmus uteri. Hal ini berhubungan dengan kontraksi
rahim yang mempunyai sifat khas, antara lain:
a.
Setelah
kontraksi maka otot tersebut tidak berelaksasi kembali ke keadaan sebelum
kontraksi tapi menjadi sedikit lebih pendek walaupun tonusnya seperti sebelum
kontraksi (Retraksi).
b.
Kontraksi
tidak sama kuatnya, tapi paling kuat di daerah fundus uteri dan
berangsur-angsur berkurang ke bawah dan paling lemah pada segmen bawah rahim
(SBR).
c.
Sebagian
dari isi rahim keluar dari segmen atas rahim (SAR) dan diterima oleh segmen
bawah rahim (SBR).
d.
Jadi,
segmen atas makin lama makin mengecil sedangkan segmen bawah makin diregang dan
makin tipis dan isi rahim sedikit demi sedikit pindah ke segmen bawah.
e.
Karena segmen
atas makin tebal dan segmen bawah makin tipis, maka batas antara segmen atas
dan bawah menjadi jelas (lingkaran
retraksi yang fisiologis).
f.
Kalau
segmen bawah sangat diregang maka lingkaran retraksi lebih jelas dan naik
mendekat pusat (lingkaran retraksi yang patologis atau lingkaran bandle).
10)
Bentuk
rahim
Pada tiap kontraksi sumbu
panjang rahim bertambah panjang sedangkan ukuran melintang maupun muka belakang
berkurang. Hal ini terjadi karena ukuran melintang berkurang, artinya tulang
punggung menjadi lebih lurus dan dengan demikian kutup atas janin tertekan pada
fundus sedangkan kutub bawah ditekan ke dalam PAP.
11)
Serviks
a.
Agar bayi
dapat keluar dari rahim maka perlu terjadi pembukaan dari serviks.
b.
Pembukaan
dari serviks ini biasanya didahului oleh pendataran dari serviks.
c.
Pendataran
serviks adalah : pendekatan dari kanalis servikalis berupa sebuah saluran yang
panjangnya 1-2 cm, menjadi satu lubang saja dengan pinggir yang tipis.
d.
Pembukaan
dari serviks adalah pembesaran dari OUE yang tadinya berupa suatu lubang dengan
diameter beberapa millimeter menjadi lubang yang dapat dilalui janin kira-kira
10 cm diameternya.
e.
Perubahan
serviks selama kala I, dibagi menjadi 2 fase, yaitu:
a)
Fase
laten
·
Berlangsung
hingga serviks membuka 3 cm.
·
Pada
umumnya, fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam.
b)
Fase
aktif
·
Dari
pembukaan (4 – 10) cm. Akan terjadi kecepatan rata-rata 1cm per jam (nullipara/
primipara) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm (multipara).
·
Terjadi
penurunan bagian terbawah janin.
12)
Vagina
dan dasar panggul
a.
Dalam
kala I ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina yang sejak kehamilan
mengalami perubahan sedemikian rupa, sehingga dapat dilalui oleh janin.
b.
Setelah
ketuban pecah, segala perubahan terutama pada dasar panggul diregang menjadi
saluran dengan dinding yang tipis.
c.
Waktu
kepala sampai di vulva, lubang vulva mengahadap ke depan atas. Dari luar
peregangan oleh bagian depan nampak pada perineum yang menonjol dan menjadi
tipis sedangkan anus menjadi terbuka.
13)
Hematologi
Hemoglobin meningkat sampai
1,2 gr/100 ml, selama persalinan dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum
persalinan sehari setelah pasca persalinan kecuali ada perdarahan post partum.
Ø REFERENSI:
BUKU WAJIB (BW):
1) Varney,
H; Jones; Bartlett. (1997) Varney’s Midwifery. New York, N. Y.
2) Saifuddin,
A. B. (2002) Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. YBP-SP
3) Pusdiknakes.
(2001) Buku III Asuhan Kebidanan Pada Ibu
Intrapartum. Jakarta. WHO; JHPIEGO.
BUKU
ANJURAN (BA):
1) Dep
Kes RI. (2003). Dasar-dasar Asuhan
Kebidanan. Jakarta. Direktorat Keperawatan dan Keteknisan Medik.
2) Manuaba,
I. B. G. (1998) Ilmu Kebidanan, Penyakit
Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta. EGC
3) Saifuddin,
A. B. (2004) Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. YBP-SP.
4) Sufyan,
M. (2001) Bidan Menyongsong Masa Depan.
Jakarta. PP IBI.
5) JNPK.
(2007) Buku Asuhan Persalinan Normal
Edisi 3. Jakarta. JNPK-KR; POGI.

No comments:
Post a Comment