Saturday, 31 May 2014

JUNI SOFIANA

METODE KANGURU




a.       Pengertian
Metode kanguru adalah suatu metode perawatan BBLR yang diilhami oleh cara seekor kanguru merawat anaknya yang selalu lahir premature. Bayi dalam posisi tegak (upright) atau prone (bila ibu berbaring), hanya memakai popok dan penutup kepala, didekap diantara kedua payudara ibu, bersentuhan kulit dengan kulit, dada dengan dada secara berkesinambungan (Perinasia, 2003).
b.      Manfaat metode kanguru :
1)      Meningkatkan hubungan emosional ibu-bayi
Hubungan emosional ibu dengan bayi dimulai sejak kehamilan. Ikatan emosioanl yang disebut attachment atau bounding ini merupakan suatu proses hubungan bayi dengan orang tuanya. Kebutuhan bayi terhadap orang tua bersifat absolute, tetapi kebutuhan orang tua terhadap bayi bersifat relatif.  Bayi dengan kontak yang dini dengan ibunya, lebih sedikit menangis lebih sering tersenyum, dan lebih banyak memanfaatkan ASI dari pada bayi yang kontak dengan ibunya terlambat atau tidak adekuat.
2)      Stabilisasi tubuh
Terdapat beberapa cara untuk menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat yaitu dengan metode kanguru, ruangan hangat, botol yang dihangatkan, radiant warmer, tempat tidur tang berisi air yang dihangatkan dan inkubator. Ditinjau dari segi efektifitas, keamana dan hygiene metode kanguru sama dengan inkubator tipe tiga yang paling canggih, namun dari segi biaya berbeda jauh.
Metode kanguru tanpa biaya, kecuali cinta kasih orang tuanya. Pengaturan suhu tubuh ibu yang menggunakan metode kanguru di temukan oleh Ludington-Hoe dkk. Didapatkan bahwa suhu ibu akan meningkat bila bayi mulai dingin dan bila bayi telah hangat maka suhu ibu menurun. Fenomena ini disebut sebagai maternal neonatal thermal synchrony.
3)      Stabilisasi laju denyut jantung dan pernafasan
Ludingto-Hoe dkk dalam penelitiannya menggunakan alat monitor kontinyu, menemukan bahwa selama perawatan menggunakan metode kanguru laju denyut jantung bayi relative stabil dan konstan sekitar 140-160 kali per menit. Ketika bayi tidur saat perawatan metode kanguru, denyut jantung menjadi teratur.
Penelitian lain dengan menggunakan pneumokardiogram, melakukan pengamatan terhadap pola respirasi terhadap denyut jantung sepanjang tiga interval diantara empat waktu penyusuan. Pada interval ke-1 bayi dirawat dalam boks, pada interval ke-2 dengan metode kanguru dan pada interval ke-3 dalam boks kembali. Hasil dilihat setelah 1 jam penyusunan bahwa laju nafas dan denyut jantung selama metode kanguru lebih stabil dibanding menggunakan boks.
4)      Pertumbuhan dan peningkatan berat badan
Selama perawatan dengan metode kanguru, bayi dalam keadaan rileks, beristirahat dalam posisi yang menyenangkan, seperti posisi dalam rahim, sehingga kegelisahan bayi berkurang dan tidur lebih lama. Dalam keadaan ini, konsumsi oksigen dan kalori berada pada tingkat paling rendah, sehingga kalori yang ada digunakan untuk menaikan berat badan. Selain itu peningkatan berat badan juga disebabkan oleh produksi ASI yang meningkat dan frekuensi menyusu yang lebih sering.
5)      Mengurangi stress baik pada ibu maupun bayi
Pada perawatan metode kanguru bayi tidur dua kali lebih sering, serta lebih lama dan dalam. Hal ini penting agar bayi dapat waspada (alert) sehingga bayi dapat melakukan kontak mata dengan ibunya dan memperkuat ikatan ibu bayi. Masa waspada bayi berlangsung lebih lama saat perawatan metode kanguru dari pada bayi yang dirawat terpisah dari ibu.
Bayi yang dirawat di inkubator bisa menangis selama 2-3 menit sampai seseorang datang untuk merawatnya, dengan metode kanguru jumlah tangisan dalam satu episode menurun bermakna bahkan banyak bayi yang tidak menangis sama sekali, atau jika menangis biasanya berlangsung selama satu menit. Tangisan yang terjadi selama metode kanguru biasanya terjadi pada saat bayi sedang lapar dan dapat segera diketahui oleh ibu dengan memberikan ASI.
6)      Meningkatkan produksi ASI
Air susu ibu pada kelompok metode kanguru jumlahnya lebih banyak secara bermakna di banding kelompok control. Peningkatan produksi asi dapat terjadi dengan menguatnya ikatan emosi ibu bayi sehingga terjadi letdown reflex yang penting bagi pengeluaran ASI. Disamping itu, stress yang biasa terjadi pada ibu ibu yang bayinya dirawat di rumah sakit akan berkurang baik bila ibu diberi kesempatan mendekap bayinya dalam metode kanguru, hal ini sangat berpengaruh positif terhadap produksi ASI.
7)      Menurunkan kejadian infeksi
Sloan dkk dalam Perinasia 2003, melaporkan bahwa pada perawatan dengan inkubator lebih sering terjadi infesi berat dibanding dengan perawatan metode kanguru. Hal ini tampaknya disebabkan flora normal kulit ibu lebih aman bagi bayi premature yang mendapat ASI dibandingkan dengan organisme yang resisten terhadap antibiotik yang terdapat di rumah sakit.


c.       Syarat dilakukannya metode kanguru  :
1)      Bayi dengan berat badan kurang atau sama 2000 gram
BBLR dengan berat kurang atau sama 2000 gram, memerlukan berbagai fasilitas yang memadai dan para ahli untuk membantu menunjang kehidupannya, salah satunya adalah dengan adanya perawatan metode kanguru.
2)      Sudah bernafas spontan.
BBLR yang sudah dapat bernafas spontan tanpa bantuan infus dan tambahan oksigen di ruang perinatal resiko tinggi, dapat menggunakan perawatan metode ini.
3)      Tidak memiliki masalah kesehatan serius
Ibu dengan HIV/AIDS jelas tidak boleh memberi ASI pada bayinya, karena secara langsung akan menularkan penyakit ini. Karena perawatan metode kanguru tidak lepas dari pemberian ASI pada bayi, maka sebaiknya ibu yang memiliki masalah kesehatan serius ini tidak melakukan metode ini.
4)      Tidak ada kelainan atau penyakit yang menyertai
Bayi yang memiliki kelainan seperti Atresia bilier jelas tidak dapat dilakukan perawatan ini, karena perlunya intervensi dengan menggunakan perawatan di dalam inkubator.
5)      Refleks dan kordinasi isap dan menelan yang baik
Bayi yang mengalami labioskizis dan atau labiopalatoskizis jelas tidak memiliki refleks dan koordinasi isap serta menelan yang baik. Oleh karena BBLR yang mengalami hal ini tidak dapat menyusui dengan baik, maka bayi dengan masalah kesehatan serius ini tidak dapat melakukan perawatan metode kanguru.
6)      Perkembangan selama di inkubator baik
Setiap BBLR pada awalnya mendapatkan perawatan di inkubator sebelum akhirnya akan dilakukan perawatan metode kanguru, dalam hal ini perlu pengamatan secara kontinyu saat BBLR berada di dalam inkubator, agar dapat menilai seberapa jauh perkembangan BBLR di dalam inkubator. Semakin baik kondisi bayi, maka semakin mudah pula mengambil langkah perawatan selanjutnya, yaitu perawatan metode kanguru.
7)      Minat, kesiapan dan keikutsertaan orang tua, sangat mendukung dalam keberhasilan.
Orang tua dalam hal ini ayah dan ibu sangat berperan penting dalam kesuksesan metode ini. Kerjasama antara keduanya dalam memberikan perawatan metode kanguru sangatlah penting (Perinasia, 2003).
d.      Tahapan penggunaan Metode Kanguru menurut Perinasia (2003) meliputi :
1)      Persiapan ibu
a)      Membersihkan daerah dada dan perut dengan cara mandi dengan sabun 2-3 kali sehari.
b)      Membersihkan kuku dan tangan.
c)      Baju yang dipakai harus bersih dan hangat sebelum dipakai
d)     Selama pelaksanaan Metode Kanguru ibu tidak memakai BH
e)      Bagian bawah baju diikat dengan pengikat baju atau kain
f)       Memakai kain baju yang dapat direnggang
2)      Persiapan bayi
a)      Bayi jangan dimandikan, tetapi cukup dibersihkan dengan kain bersih dan hangat
b)      Bayi perlu memakai tutup kepala atau topi dan popok selama penggunaan metode ini.
c)      Posisi bayi vertikal ditengah payudara atau sedikit ke samping kanan/kiri sesuai dengan kenyamanan bayi serta ibu. Usahakan kulit bayi kontak langsung dengan kulit ibunya terus menerus.
d)     Saat ibu duduk atau tidur posisi bayi tetap tegak mendekap ibu
e)      Setelah bayi dimasukkan ke dalam baju, ikat kain selendang di sekeliling atau mengelilingi ibu dan bayi.
e.       Waktu pelaksanaan KMC
Menurut Health Technology Assessment Indonesia (HTA Indonesia) tahun 2008 pelaksanaan KMC di bagi menjadi :
1)      Intermiten : PMK tidak diberikan sepanjang waktu tetapi hanya dilakukan jika ibu mengunjungi bayinya yang masih berada dalam perawatan di inkubator dengan durasi minimal satu jam secara terus-menerus dalam satu hari.
2)      Continue : PMK yang diberikan sepanjang waktu yang dapat dilakukan di unit rawat gabung atau ruangan yang dipergunakan untuk perawatan metode kanguru.
Bayi-bayi dengan penyakit yang berat atau membutuhkan perawatan khusus dapat menunggu sampai sembuh sebelum dilaksanakan PMK terus-menerus (kontinu). PMK dengan jangka waktu yang pendek (intermiten) dapat dimulai pada bayi yang dalam proses penyembuhan tetapi masih memerlukan pengobatan medis (misalnya infus, tambahan oksigen dengan konsentrasi rendah). Namun, untuk PMK yang kontinu, kondisi bayi harus dalam keadaan stabil, bayi harus dapat bernapas secara alami tanpa bantuan oksigen. Kemampuan untuk minum (seperti menghisap dan menelan) bukan merupakan persyaratan utama, karena PMK sudah dapat dimulai meskipun pemberian minumnya dengan menggunakan pipa lambung (HTA Indonesia, 2008).
Ketika bayi telah siap untuk PMK, atur waktu yang tepat bagi ibu dan bayi. Sesi pertama ini merupakan sesuatu yang penting dan perlu waktu serta penuh perhatian. Sarankan pada ibu agar menggunakan pakaian yang longgar dan ringan. Gunakan ruang khusus yang cukup hangat untuk si bayi. Anjurkan ibu untuk membawa suami atau seorang teman pilihannya. Ini akan memberikan semangat dan rasa aman (HTA Indonesia, 2008).
Kontak kulit langsung sebaiknya dimulai secara bertahap, perlahan-lahan dari perawatan konvensional ke PMK yang terus-menerus. Kontak yang berlangsung kurang dari 60 menit sebaiknya dihindari, karena pergantian yang sering akan membuat bayi menjadi stres. Lamanya kontak kulit langsung ditingkatkan secara bertahap sampai kalau mungkin dilakukan terus-menerus siang dan malam dan hanya ditunda untuk mengganti popok, sambil mengontrol suhu tubuh bayi (HTA Indonesia, 2008).
Ketika ibu harus meninggalkan bayinya, bayi tersebut dapat dibungkus dengan baik dan ditempatkan di tempat yang hangat jauh dari hembusan angin, diselimuti dengan selimut hangat atau jika tersedia ditempatkan dalam alat penghangat. Selama perpisahan antara ibu dan bayi, anggota keluarga (ayah atau suami, nenek, dll), atau teman dekat dapat juga menolong melakukan kontak kulit langsung ibu dengan bayi dalam posisi kanguru (HTA Indonesia, 2008).

No comments:

Post a Comment