METODE KANGURU
a. Pengertian
Metode
kanguru adalah suatu metode perawatan BBLR yang diilhami oleh cara seekor
kanguru merawat anaknya yang selalu lahir premature. Bayi dalam posisi tegak (upright) atau prone (bila ibu berbaring), hanya memakai popok dan penutup kepala,
didekap diantara kedua payudara ibu, bersentuhan kulit dengan kulit, dada
dengan dada secara berkesinambungan (Perinasia, 2003).
b. Manfaat
metode kanguru :
1)
Meningkatkan hubungan emosional ibu-bayi
Hubungan
emosional ibu dengan bayi dimulai sejak kehamilan. Ikatan emosioanl yang
disebut attachment atau bounding ini merupakan suatu proses
hubungan bayi dengan orang tuanya. Kebutuhan bayi terhadap orang tua bersifat
absolute, tetapi kebutuhan orang tua terhadap bayi bersifat relatif. Bayi dengan kontak yang dini dengan ibunya,
lebih sedikit menangis lebih sering tersenyum, dan lebih banyak memanfaatkan
ASI dari pada bayi yang kontak dengan ibunya terlambat atau tidak adekuat.
2)
Stabilisasi tubuh
Terdapat
beberapa cara untuk menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat yaitu dengan metode
kanguru, ruangan hangat, botol yang dihangatkan, radiant warmer, tempat tidur tang berisi air yang dihangatkan dan
inkubator. Ditinjau dari segi efektifitas, keamana dan hygiene metode kanguru
sama dengan inkubator tipe tiga yang paling canggih, namun dari segi biaya
berbeda jauh.
Metode
kanguru tanpa biaya, kecuali cinta kasih orang tuanya. Pengaturan suhu tubuh
ibu yang menggunakan metode kanguru di temukan oleh Ludington-Hoe dkk.
Didapatkan bahwa suhu ibu akan meningkat bila bayi mulai dingin dan bila bayi
telah hangat maka suhu ibu menurun. Fenomena ini disebut sebagai maternal neonatal thermal synchrony.
3)
Stabilisasi laju denyut jantung dan
pernafasan
Ludingto-Hoe
dkk dalam penelitiannya menggunakan alat monitor kontinyu, menemukan bahwa
selama perawatan menggunakan metode kanguru laju denyut jantung bayi relative
stabil dan konstan sekitar 140-160 kali per menit. Ketika bayi tidur saat
perawatan metode kanguru, denyut jantung menjadi teratur.
Penelitian
lain dengan menggunakan pneumokardiogram, melakukan pengamatan terhadap pola
respirasi terhadap denyut jantung sepanjang tiga interval diantara empat waktu
penyusuan. Pada interval ke-1 bayi dirawat dalam boks, pada interval ke-2
dengan metode kanguru dan pada interval ke-3 dalam boks kembali. Hasil dilihat
setelah 1 jam penyusunan bahwa laju nafas dan denyut jantung selama metode
kanguru lebih stabil dibanding menggunakan boks.
4)
Pertumbuhan dan peningkatan berat badan
Selama
perawatan dengan metode kanguru, bayi dalam keadaan rileks, beristirahat dalam
posisi yang menyenangkan, seperti posisi dalam rahim, sehingga kegelisahan bayi
berkurang dan tidur lebih lama. Dalam keadaan ini, konsumsi oksigen dan kalori
berada pada tingkat paling rendah, sehingga kalori yang ada digunakan untuk
menaikan berat badan. Selain itu peningkatan berat badan juga disebabkan oleh
produksi ASI yang meningkat dan frekuensi menyusu yang lebih sering.
5)
Mengurangi stress baik pada ibu maupun
bayi
Pada
perawatan metode kanguru bayi tidur dua kali lebih sering, serta lebih lama dan
dalam. Hal ini penting agar bayi dapat waspada (alert) sehingga bayi dapat melakukan kontak mata dengan ibunya dan
memperkuat ikatan ibu bayi. Masa waspada bayi berlangsung lebih lama saat
perawatan metode kanguru dari pada bayi yang dirawat terpisah dari ibu.
Bayi
yang dirawat di inkubator bisa menangis selama 2-3 menit sampai seseorang datang
untuk merawatnya, dengan metode kanguru jumlah tangisan dalam satu episode
menurun bermakna bahkan banyak bayi yang tidak menangis sama sekali, atau jika
menangis biasanya berlangsung selama satu menit. Tangisan yang terjadi selama
metode kanguru biasanya terjadi pada saat bayi sedang lapar dan dapat segera
diketahui oleh ibu dengan memberikan ASI.
6)
Meningkatkan produksi ASI
Air
susu ibu pada kelompok metode kanguru jumlahnya lebih banyak secara bermakna di
banding kelompok control. Peningkatan produksi asi dapat terjadi dengan
menguatnya ikatan emosi ibu bayi sehingga terjadi letdown reflex yang penting bagi pengeluaran ASI. Disamping itu,
stress yang biasa terjadi pada ibu ibu yang bayinya dirawat di rumah sakit akan
berkurang baik bila ibu diberi kesempatan mendekap bayinya dalam metode
kanguru, hal ini sangat berpengaruh positif terhadap produksi ASI.
7)
Menurunkan kejadian infeksi
Sloan
dkk dalam Perinasia 2003, melaporkan bahwa pada perawatan dengan inkubator
lebih sering terjadi infesi berat dibanding dengan perawatan metode kanguru.
Hal ini tampaknya disebabkan flora normal kulit ibu lebih aman bagi bayi
premature yang mendapat ASI dibandingkan dengan organisme yang resisten
terhadap antibiotik yang terdapat di rumah sakit.
c. Syarat
dilakukannya metode kanguru :
1)
Bayi
dengan berat badan kurang atau sama 2000 gram
BBLR dengan berat kurang
atau sama 2000 gram, memerlukan berbagai fasilitas yang memadai dan
para ahli untuk membantu menunjang kehidupannya, salah satunya adalah dengan
adanya perawatan metode kanguru.
2)
Sudah
bernafas spontan.
BBLR yang sudah
dapat bernafas spontan tanpa bantuan infus dan tambahan oksigen di ruang
perinatal resiko tinggi, dapat menggunakan perawatan metode ini.
3)
Tidak memiliki masalah kesehatan serius
Ibu dengan HIV/AIDS
jelas tidak boleh memberi ASI pada bayinya, karena secara langsung akan
menularkan penyakit ini. Karena perawatan metode kanguru tidak lepas dari
pemberian ASI pada bayi, maka sebaiknya ibu yang memiliki masalah kesehatan
serius ini tidak melakukan metode ini.
4)
Tidak
ada kelainan atau penyakit yang menyertai
Bayi yang memiliki
kelainan seperti Atresia bilier jelas
tidak dapat dilakukan perawatan ini, karena perlunya intervensi dengan
menggunakan perawatan di dalam inkubator.
5)
Refleks
dan kordinasi isap dan menelan yang baik
Bayi yang mengalami
labioskizis dan atau labiopalatoskizis jelas tidak memiliki
refleks dan koordinasi isap serta menelan yang baik. Oleh karena BBLR yang
mengalami hal ini tidak dapat menyusui dengan baik, maka bayi dengan masalah
kesehatan serius ini tidak dapat melakukan perawatan metode kanguru.
6)
Perkembangan
selama di inkubator baik
Setiap BBLR pada
awalnya mendapatkan perawatan di inkubator sebelum akhirnya akan dilakukan
perawatan metode kanguru, dalam hal ini perlu pengamatan secara kontinyu saat
BBLR berada di dalam inkubator, agar dapat menilai seberapa jauh perkembangan
BBLR di dalam inkubator. Semakin baik kondisi bayi, maka semakin mudah pula
mengambil langkah perawatan selanjutnya, yaitu perawatan metode kanguru.
7)
Minat,
kesiapan dan keikutsertaan orang tua, sangat mendukung dalam keberhasilan.
Orang tua dalam hal
ini ayah dan ibu sangat berperan penting dalam kesuksesan metode ini. Kerjasama
antara keduanya dalam memberikan perawatan metode kanguru sangatlah penting
(Perinasia, 2003).
d. Tahapan
penggunaan Metode Kanguru menurut Perinasia (2003) meliputi :
1) Persiapan
ibu
a) Membersihkan
daerah dada dan perut dengan cara mandi dengan sabun 2-3 kali sehari.
b) Membersihkan
kuku dan tangan.
c) Baju
yang dipakai harus bersih dan hangat sebelum dipakai
d) Selama
pelaksanaan Metode Kanguru ibu tidak memakai BH
e) Bagian
bawah baju diikat dengan pengikat baju atau kain
f) Memakai
kain baju yang dapat direnggang
2) Persiapan
bayi
a) Bayi
jangan dimandikan, tetapi cukup dibersihkan dengan kain bersih dan hangat
b) Bayi
perlu memakai tutup kepala atau topi dan popok selama penggunaan metode ini.
c) Posisi
bayi vertikal ditengah payudara atau sedikit ke samping kanan/kiri sesuai
dengan kenyamanan bayi serta ibu. Usahakan kulit bayi kontak langsung dengan
kulit ibunya terus menerus.
d) Saat
ibu duduk atau tidur posisi bayi tetap tegak mendekap ibu
e) Setelah
bayi dimasukkan ke dalam baju, ikat kain selendang di sekeliling atau
mengelilingi ibu dan bayi.
e. Waktu
pelaksanaan KMC
Menurut Health Technology Assessment Indonesia
(HTA Indonesia) tahun 2008 pelaksanaan KMC di bagi menjadi :
1) Intermiten : PMK tidak diberikan sepanjang
waktu tetapi hanya dilakukan jika ibu mengunjungi bayinya yang masih berada
dalam perawatan di inkubator dengan durasi minimal satu jam secara
terus-menerus dalam satu hari.
2) Continue : PMK yang diberikan sepanjang
waktu yang dapat dilakukan di unit rawat gabung atau ruangan yang dipergunakan
untuk perawatan metode kanguru.
Bayi-bayi
dengan penyakit yang berat atau membutuhkan perawatan khusus dapat menunggu
sampai sembuh sebelum dilaksanakan PMK terus-menerus (kontinu). PMK dengan
jangka waktu yang pendek (intermiten) dapat dimulai pada bayi yang dalam proses
penyembuhan tetapi masih memerlukan pengobatan medis (misalnya infus, tambahan
oksigen dengan konsentrasi rendah). Namun, untuk PMK yang kontinu, kondisi bayi
harus dalam keadaan stabil, bayi harus dapat bernapas secara alami tanpa
bantuan oksigen. Kemampuan untuk minum (seperti menghisap dan menelan) bukan
merupakan persyaratan utama, karena PMK sudah dapat dimulai meskipun pemberian
minumnya dengan menggunakan pipa lambung (HTA Indonesia, 2008).
Ketika
bayi telah siap untuk PMK, atur waktu yang tepat bagi ibu dan bayi. Sesi
pertama ini merupakan sesuatu yang penting dan perlu waktu serta penuh
perhatian. Sarankan pada ibu agar menggunakan pakaian yang longgar dan ringan.
Gunakan ruang khusus yang cukup hangat untuk si bayi. Anjurkan ibu untuk membawa
suami atau seorang teman pilihannya. Ini akan memberikan semangat dan rasa aman
(HTA Indonesia, 2008).
Kontak
kulit langsung sebaiknya dimulai secara bertahap, perlahan-lahan dari perawatan
konvensional ke PMK yang terus-menerus. Kontak yang berlangsung kurang dari 60
menit sebaiknya dihindari, karena pergantian yang sering akan membuat bayi
menjadi stres. Lamanya kontak kulit langsung ditingkatkan secara bertahap
sampai kalau mungkin dilakukan terus-menerus siang dan malam dan hanya ditunda
untuk mengganti popok, sambil mengontrol suhu tubuh bayi (HTA Indonesia, 2008).
Ketika
ibu harus meninggalkan bayinya, bayi tersebut dapat dibungkus dengan baik dan
ditempatkan di tempat yang hangat jauh dari hembusan angin, diselimuti dengan
selimut hangat atau jika tersedia ditempatkan dalam alat penghangat. Selama
perpisahan antara ibu dan bayi, anggota keluarga (ayah atau suami, nenek, dll),
atau teman dekat dapat juga menolong melakukan kontak kulit langsung ibu dengan
bayi dalam posisi kanguru (HTA Indonesia, 2008).

No comments:
Post a Comment